Jakarta (beritajatim.id) – Waralaba “Predator” kembali menarik perhatian para penggemar film aksi dan fiksi ilmiah melalui film terbarunya, Predator: Badlands, yang disebut-sebut sebagai bab penting dalam arah baru semesta Predator.
Di bawah arahan Dan Trachtenberg, sang sutradara sekaligus penulis naskah, seri ini kembali menunjukkan keunikannya, tidak bergantung pada sumber cerita baku dan selalu menghadirkan karakter serta alur baru di setiap filmnya.
Berbeda dari banyak waralaba besar lain yang cenderung memanfaatkan pola cerita berulang, “Predator” justru berkembang dengan pendekatan klasik: setiap film berdiri sendiri namun tetap berada dalam satu semesta yang saling terhubung. Sejak kesuksesan Prey (2022) dan Killer of Killers (2024), Trachtenberg dianggap sebagai “arsitek” dunia baru Predator, dan kini Badlands memperluas semesta itu lebih jauh.
Akhir yang Misterius di Predator: Badlands
Dalam penutup film, penonton disuguhi adegan yang berfungsi layaknya mid-credits scene. Dikisahkan Dek (Dimitrius Schuster-Koloamatangi), Thia (Elle Fanning), dan Bud, anggota klan Yautja muda bernama Wolf Clan, harus menghadapi murka sang Ibu Dek, sosok yang belum pernah ditampilkan sebelumnya, setelah Dek mengalahkan ayahnya (Reuben De Jong).
Adegan ini memberi sinyal bahwa kisah klan Wolf belum berakhir dan membuka peluang besar untuk sekuel langsung Badlands.
Namun, jika melihat sejarah panjang waralaba ini, banyak akhir film “Predator” yang dibiarkan menggantung tanpa tindak lanjut langsung.
Predators (2010) meninggalkan tokohnya terdampar di planet perburuan Yautja, sementara The Predator (2018) memperkenalkan “Predator Killer Suit” tanpa kelanjutan jelas. Bahkan film Prey (2022) memperlihatkan kembalinya makhluk Yautja ke suku Comanche dalam adegan penutupnya.
Peluang Crossover dan Arah Baru Semesta Predator
Dengan berbagai benang cerita yang belum terjawab, besar kemungkinan film berikutnya akan menjadi ajang crossover antar-karakter dari film sebelumnya.
Beberapa penggemar berspekulasi bahwa proyek selanjutnya bisa jadi merupakan gabungan antara Predators, The Predator, dan Killer of Killers, atau bahkan film animasi yang memungkinkan kembalinya karakter ikonik seperti Dutch (Arnold Schwarzenegger) dan Mike Harrigan (Danny Glover) tanpa tuntutan aksi fisik berat.
Trachtenberg sendiri sempat memberi isyarat adanya “arah ketiga” yang tengah disiapkan — sesuatu yang berbeda dari sekuel maupun crossover biasa.
Predator: Masa Depan Cerah untuk Semesta Gelap
Meski masa depan waralaba ini masih penuh misteri, satu hal yang pasti: Predator tetap menjadi salah satu waralaba paling dinamis di genre fiksi ilmiah. Dengan kombinasi aksi brutal, kisah manusia yang bertahan hidup, dan eksplorasi budaya pemburu Yautja, semesta ini memiliki potensi besar untuk terus berkembang.
Apakah penonton akan segera melihat kelanjutan kisah Wolf Clan, atau justru film besar yang mempertemukan para tokoh dari seluruh seri? Yang jelas, inovasi dan keberanian bercerita membuat “Predator” tetap menjadi waralaba yang paling tidak terduga, dan mungkin, yang paling menarik saat ini. (aga)


as a preferred source on Google



