Surabaya (beritajatim.id) – Real Madrid mengambil langkah mengejutkan dengan mengakhiri kerja sama bersama Xabi Alonso. Keputusan tersebut diumumkan hanya sehari setelah Los Blancos tumbang 2-3 dari Barcelona pada laga final Piala Super Spanyol, yang sekaligus menjadi penutup singkat era kepelatihan Alonso di Santiago Bernabeu.
Tekanan terhadap pelatih berusia 44 tahun itu sejatinya sudah muncul sejak beberapa pekan terakhir. Meski sempat meraih lima kemenangan beruntun jelang final—termasuk hasil positif atas Atletico Madrid—hasil tersebut belum cukup meredam evaluasi menyeluruh dari manajemen klub.
Akhirnya, kedua belah pihak sepakat untuk mengakhiri kerja sama lebih cepat dari rencana awal. Real Madrid pun bergerak cepat dengan menunjuk Álvaro Arbeloa, yang sebelumnya menangani tim Castilla, sebagai pelatih kepala baru tim utama.
Jurnalis El Chiringuito TV, Jose Luis Sanchez, menyebut ada tiga faktor utama yang menjadi dasar keputusan manajemen Real Madrid untuk mengakhiri masa kepelatihan Xabi Alonso.
Salah satu perhatian terbesar sepanjang musim adalah kondisi fisik skuad. Cedera silih berganti menghantam para pemain inti, membuat komposisi tim sulit mencapai konsistensi.
Tak hanya itu, Real Madrid kerap kalah dalam duel fisik saat menghadapi lawan-lawan tertentu. Situasi tersebut memicu kekhawatiran internal terkait metode latihan dan persiapan fisik yang diterapkan selama Alonso menangani tim.
Bahkan sebelum keputusan resmi diambil, sempat muncul wacana untuk mengembalikan Antonio Pintus ke staf kepelatihan. Dengan Arbeloa kini memimpin tim, Presiden Florentino Perez disebut membuka peluang besar bagi Pintus untuk kembali mengisi posisi pelatih fisik.
Faktor lain yang mempercepat perpisahan adalah hubungan Alonso dengan sejumlah pemain kunci. Relasinya dengan Vinicius Junior dikabarkan tidak lagi harmonis sejak beberapa waktu terakhir.
Selain itu, Federico Valverde juga disebut beberapa kali menunjukkan ketidakpuasan terhadap peran dan posisi yang diberikan kepadanya. Metode kepelatihan Alonso dinilai tidak sepenuhnya diterima oleh seluruh anggota skuad, sehingga memicu ketegangan di ruang ganti.
Bagi manajemen Madrid, dinamika ruang ganti merupakan aspek krusial. Ketika keharmonisan mulai terganggu, alarm peringatan pun langsung menyala.
Penampilan Real Madrid saat menghadapi Barcelona di final Piala Super Spanyol menjadi pemicu terakhir. Meski kalah tipis 2-3, performa di atas lapangan dinilai tidak mencerminkan standar tinggi klub.
Padahal, Madrid sebelumnya sempat mengalahkan Barcelona pada pertemuan awal musim. Kegagalan mengulang hasil tersebut di laga final yang digelar di Jeddah meninggalkan kesan negatif bagi jajaran petinggi klub.
Kekalahan dari rival abadi di partai puncak dianggap mencoreng citra tim dan mempertegas keraguan terhadap arah proyek yang dibangun Alonso.
Dengan menunjuk Álvaro Arbeloa sebagai pelatih baru, Real Madrid berharap bisa menemukan kembali stabilitas, memperbaiki atmosfer tim, dan menjaga peluang bersaing hingga akhir musim. (aga)


as a preferred source on Google




