Jakarta (beritajatim.id) – Real Madrid menunjukkan tanda-tanda perbaikan hubungan internal setelah kemenangan 4–3 atas Olympiakos, sebuah laga yang tidak hanya menghadirkan performa ofensif terbaik musim ini, tetapi juga memperlihatkan gestur rekonsiliasi antara Vinicius Junior dan pelatih Xabi Alonso. Sebulan sebelumnya, hubungan keduanya menjadi sorotan setelah penyerang Brasil tersebut memperlihatkan ketidakpuasan secara terbuka.
Di laga melawan Olympiakos, momen saling menyapa dan tepukan hangat dari Alonso kepada Vinicius menjadi simbol meredanya tensi. Setelah pertandingan, Alonso kembali menunjukkan pendekatan positif kepada pemainnya, menggambarkan suasana internal yang disebutnya lebih solid.
Dalam beberapa hari terakhir, Kylian Mbappe juga menegaskan pentingnya kesatuan tim sekaligus perlindungan terhadap pelatih. Pemain Prancis itu mengambil peran sebagai figur senior di ruang ganti, mencoba memperkuat pesan bahwa skuad perlu berada dalam satu barisan.
Perubahan sikap juga ditunjukkan oleh Fede Valverde, yang sebelumnya dikaitkan dengan kubu pemain yang kurang puas. Gelandang Uruguay tersebut menyampaikan lewat media sosial bahwa hubungan antara staf pelatih dan pemain berada dalam kondisi lebih kompak dibanding pekan-pekan sebelumnya. Publikasi dari berbagai media olahraga Spanyol turut menegaskan adanya perbaikan atmosfer tim dan penyesuaian pendekatan dari Alonso.
Meskipun suasana internal tampak mencair, pekerjaan tak kalah sulit menanti di lapangan. Real Madrid kembali memperlihatkan penurunan kontrol permainan, dengan Olympiakos menciptakan delapan tembakan tepat sasaran dari total 18 percobaan—angka yang kontras dengan periode awal Alonso, ketika tim tampil jauh lebih rapat dan metodis.
Strategi baru Alonso terlihat memberi kebebasan lebih besar kepada Vinicius dan Mbappe. Hasilnya terlihat jelas: Vinicius mencatat salah satu penampilan terbaik musim ini dengan tiga tembakan tepat sasaran, dua assist, dan beberapa aksi individu yang mengacaukan pertahanan lawan. Duetnya dengan Mbappe untuk pertama kalinya terlihat sepenuhnya menyatu, terutama dalam fase serangan cepat yang menghantam Olympiakos dalam rentang 20 menit.
Namun keleluasaan tersebut juga berdampak pada menurunnya kontribusi bertahan dari lini depan. Catatan Vinicius tanpa satu pun aksi defensif dalam pertandingan menjadi penanda perubahan ini. Situasi tersebut mengingatkan pada era Carlo Ancelotti, ketika Madrid lebih mengandalkan kemampuan ofensif individu namun sering kehilangan kendali permainan.
Absennya sejumlah pemain belakang utama seperti Dean Huijsen, Eder Militao, dan Antonio Rudiger turut memperburuk stabilitas defensif. Alonso berharap kembalinya para pemain tersebut mampu mengurangi tingkat chaos yang muncul dalam dua laga terakhir.
Di balik hasil positif dan rekonsiliasi internal, muncul pertanyaan baru mengenai konsistensi taktik anyar Alonso. Kebebasan yang diberikan kepada penyerang memang meningkatkan daya ledak serangan, tetapi berpotensi menggeser filosofi awal yang menekankan dominasi dan disiplin struktural. Nasib strategi kompromi ini pada akhirnya akan ditentukan oleh hasil, terutama karena ruang toleransi dari ruang ganti kini semakin sempit.
Untuk sementara, Madrid mendapat yang dibutuhkan: kemenangan pertama dalam empat laga dan tanda-tanda perdamaian di dalam tim. Apakah kesepakatan tidak tertulis antara Alonso dan para pemain bintangnya akan bertahan, masih harus dibuktikan dalam pertandingan-pertandingan berikutnya. (aga)


as a preferred source on Google




