Jakarta (beritajatim.id) – Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Rabu (18/2/2026), bergerak melemah 47 poin atau 0,28 persen menjadi Rp16.884 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.837 per dolar AS.
Sejalan dengan itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga tercatat melemah ke level Rp16.884 per dolar AS, dari sebelumnya Rp16.844 per dolar AS.
Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi kombinasi sentimen global, mulai dari dinamika geopolitik Timur Tengah hingga ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pasar Skeptis atas Negosiasi Iran–AS
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu sikap skeptis pelaku pasar terhadap perkembangan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat.
Meski kedua negara dilaporkan telah mencapai kesepahaman awal terkait prinsip-prinsip utama pembahasan isu nuklir, pernyataan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa kesepakatan final belum tentu tercapai dalam waktu dekat.
Ketidakpastian tersebut memicu kehati-hatian investor global, terutama karena Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia. Posisi strategis Iran di Selat Hormuz—jalur vital yang dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global setiap hari—membuat setiap eskalasi ketegangan berpotensi mengganggu pasokan energi dan memicu volatilitas pasar.
Risiko geopolitik juga meningkat setelah laporan mengenai latihan militer yang dilakukan Garda Revolusi Iran di kawasan tersebut, sementara pasukan AS masih ditempatkan dalam jumlah besar di Timur Tengah. Kondisi ini menjaga premi risiko tetap tinggi di pasar keuangan global, termasuk pasar valuta asing.
Investor Menanti Risalah The Fed dan Data Inflasi PCE
Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar bersikap hati-hati menjelang rilis risalah rapat kebijakan Januari dari Federal Reserve. Dokumen tersebut dinilai penting untuk membaca arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Selain itu, investor juga menunggu data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS, yang merupakan indikator inflasi acuan bank sentral AS. Data tersebut diperkirakan akan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap potensi pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
Menurut Ibrahim, kombinasi sentimen geopolitik dan ketidakpastian arah suku bunga AS membuat pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Prospek Rupiah Masih Rentan Tekanan Eksternal
Secara fundamental, tekanan terhadap rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan domestik. Selama ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga AS belum mereda, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih akan berlanjut.
Pelaku pasar juga akan mencermati respons kebijakan dari Bank Indonesia, terutama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah dinamika global yang cepat berubah. (ian)


as a preferred source on Google




