Surabaya (beritajatim.id) – Deretan inovasi yang dikembangkan Pemerintah Kota Surabaya bersama masyarakat terbukti memberikan dampak nyata terhadap perbaikan kesejahteraan warga. Sepanjang 2025, Surabaya mencatatkan 1.214 inovasi yang tidak hanya mengantarkan kota ini meraih predikat kota terinovatif tingkat nasional dalam ajang Innovative Government Award (IGA) 2025, tetapi juga berkontribusi signifikan dalam menekan angka kemiskinan dan pengangguran.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajad, menjelaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil gotong royong seluruh elemen di Kota Pahlawan. Menurutnya, berbagai penghargaan yang diterima sepanjang tahun, baik di tingkat nasional maupun internasional, mencerminkan tingginya partisipasi masyarakat dalam mendorong inovasi pemerintahan.
Selain dinobatkan sebagai kota terinovatif, Surabaya juga menerima penghargaan sebagai pemerintah daerah dengan sebaran inovasi urusan pemerintahan konkuren paling merata di Indonesia. Penghargaan tersebut diserahkan oleh Kementerian Dalam Negeri bersamaan dengan puncak perhelatan IGA 2025 yang digelar di Jakarta.
Irvan memaparkan, dari total 1.214 inovasi yang tercatat sepanjang 2025, sebanyak 355 inovasi berasal dari internal Pemkot Surabaya. Sementara sisanya lahir dari kontribusi masyarakat, perguruan tinggi, SMA dan SMK, hingga berbagai komunitas. Jumlah tersebut menjadikan Surabaya sebagai kota dengan inovasi terbanyak secara nasional.
Lebih jauh, Irvan menekankan bahwa nilai utama dari inovasi tersebut bukan semata pada penghargaan, melainkan dampaknya terhadap indikator kesejahteraan. Ia menyebutkan bahwa angka kemiskinan di Surabaya berhasil ditekan dari 5,23 persen menjadi 3,56 persen. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran terbuka turun signifikan dari 9,68 persen menjadi 4,84 persen, sementara Gini Rasio membaik dari 0,423 menjadi 0,381 yang menunjukkan menurunnya ketimpangan sosial.
Menurut Irvan, keberhasilan tersebut tidak lepas dari penerapan inovasi kunci Surabaya bertajuk One Data, One Map, One Policy. Pendekatan ini memastikan setiap kebijakan yang diambil pemerintah daerah, termasuk yang diarahkan oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, berbasis pada data yang terintegrasi dan tervalidasi.
Dengan sistem data yang diperbarui secara berkala dan melibatkan peran aktif warga, RT/RW, serta aparatur sipil negara di lapangan, intervensi sosial dapat dilakukan secara lebih presisi. Pendekatan berbasis data tersebut memungkinkan penanganan kemiskinan dilakukan secara by name by address, sehingga bantuan dan program sosial lebih tepat sasaran.
Irvan juga mengakui bahwa data sosial bersifat dinamis dan terus berubah seiring kondisi masyarakat. Oleh karena itu, Pemkot Surabaya secara konsisten melakukan pemutakhiran data secara real time dengan dukungan partisipasi masyarakat.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan Surabaya dalam menekan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan bukan semata hasil kerja pemerintah daerah. Kolaborasi pentahelix yang melibatkan dunia usaha, akademisi, media, lintas sektor, serta komunitas dan organisasi masyarakat sipil menjadi fondasi utama lahirnya inovasi-inovasi yang berdampak luas bagi pembangunan kota. (rio)


as a preferred source on Google




