Texas (beritajatim.id) – Tesla kembali melangkah lebih jauh dalam pengembangan kendaraan otonom. Hampir enam bulan setelah meluncurkan layanan Robotaxi terbatas dengan pengemudi pengaman di Austin, Texas, perusahaan kini mulai menguji mobil tanpa sopir dan tanpa penumpang di jalanan kota tersebut.
CEO Tesla Elon Musk mengonfirmasi uji coba ini melalui unggahan di media sosial X. Ia menyebutkan bahwa pengujian kendaraan tanpa kehadiran manusia di dalam mobil sudah mulai dilakukan.
Kabar tersebut langsung mendapat respons positif dari pasar. Saham Tesla melonjak 3,6 persen dan ditutup di level US$475,31 pada perdagangan Senin waktu setempat. Sepanjang tahun ini, saham Tesla telah menguat sekitar 18 persen dan hanya terpaut sekitar 1 persen dari rekor tertingginya yang tercapai pada Desember 2024.
Selama lebih dari satu dekade, Elon Musk berulang kali menjanjikan bahwa mobil listrik Tesla akan dapat ditingkatkan menjadi kendaraan swakemudi penuh. Mobil-mobil tersebut digadang-gadang mampu beroperasi sebagai robotaxi tanpa awak atau menempuh perjalanan jarak jauh tanpa campur tangan manusia.
Meski visi tersebut belum sepenuhnya terwujud, Tesla memperkenalkan aplikasi dan layanan ride-hailing bermerek Robotaxi di Austin pada Juni lalu. Tak lama berselang, layanan serupa juga mulai diuji coba di kawasan Teluk San Francisco.
Akun resmi Tesla di X turut mengisyaratkan ekspansi layanan tersebut dengan menyebut armada akan diaktifkan melalui pembaruan perangkat lunak over-the-air. Unggahan bernada optimistis juga datang dari Wakil Presiden AI Software Tesla, Ashok Elluswamy, yang merespons video kendaraan tanpa sopir yang diduga beroperasi di Austin.
Meski begitu, Tesla belum mengungkap jadwal pasti kapan layanan ride-hailing dapat beroperasi sepenuhnya tanpa pengemudi pengaman. Tantangan keselamatan masih menjadi sorotan utama.
Berdasarkan laporan perusahaan hingga pertengahan Oktober, tercatat tujuh insiden tabrakan melibatkan armada Robotaxi Tesla di Austin. Kendaraan tersebut masih dilengkapi sistem mengemudi otomatis serta pengawas keselamatan yang duduk di kursi penumpang atau di balik kemudi.
Data yang diserahkan Tesla ke National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) menunjukkan bahwa kecelakaan tersebut tidak bersifat fatal. Namun, pakar keselamatan sistem otonom dari Carnegie Mellon University, Philip Koopman, menilai jumlah kecelakaan tersebut tergolong tinggi mengingat ukuran armada yang masih kecil dan adanya pengawas manusia di dalam kendaraan.
Koopman juga menyoroti keputusan Tesla yang tidak mempublikasikan deskripsi rinci setiap insiden dalam laporan ke NHTSA, sehingga publik tidak mengetahui secara jelas kronologi kecelakaan yang terjadi.
Hingga kini, Tesla belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan klarifikasi lebih lanjut.
Di Texas, produsen kendaraan otonom masih diperbolehkan melakukan pengujian di jalan umum selama mematuhi aturan lalu lintas. Namun, otoritas setempat menyebut tidak memiliki kewenangan langsung untuk mengatur aktivitas kendaraan otonom secara spesifik.
Aturan tersebut akan berubah mulai 2026, seiring diberlakukannya Senate Bill 2807. Undang-undang ini mewajibkan operator kendaraan swakemudi untuk mengantongi izin dari Departemen Kendaraan Bermotor (DMV) Texas sebelum mengoperasikan layanan komersial.
Sementara itu, di California, Tesla belum mengajukan izin yang diperlukan untuk melakukan uji coba kendaraan tanpa pengemudi maupun menjalankan layanan robotaxi secara komersial.
Dalam peta persaingan global kendaraan otonom, Tesla masih berada di belakang sejumlah pemain besar. Di Amerika Serikat, Alphabet melalui Waymo telah lebih dulu mengoperasikan layanan robotaxi komersial. Di Asia, Baidu dengan Apollo Go serta WeRide juga sudah menjalankan layanan serupa di berbagai kota besar.
Meski demikian, langkah Tesla menguji Robotaxi tanpa sopir di Austin menandai fase penting dalam ambisi perusahaan untuk merealisasikan kendaraan swakemudi sepenuhnya di masa depan. (aga)


as a preferred source on Google




