Jakarta (beritajatim.id) — Saham Meta Platforms Inc. (NASDAQ: META) turun sekitar 2 persen pada Selasa pagi (waktu setempat) setelah laporan mengungkapkan bahwa Chief AI Scientist perusahaan, Yann LeCun, berencana meninggalkan perusahaan untuk membangun startup kecerdasan buatan (AI) miliknya sendiri.
Kabar tersebut pertama kali dilaporkan oleh Financial Times, yang menyebutkan bahwa LeCun tengah berada dalam tahap awal pembicaraan untuk menggalang pendanaan bagi perusahaan barunya.
Figur Penting di Dunia AI
Yann LeCun merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh di bidang deep learning modern. Ia merupakan penerima Turing Award, penghargaan tertinggi dalam ilmu komputer yang sering disebut sebagai “Hadiah Nobel” di bidang tersebut.
LeCun bergabung dengan Meta pada tahun 2013 dan berperan penting dalam membangun Fundamental AI Research (FAIR), divisi riset kecerdasan buatan yang menjadi dasar bagi berbagai pengembangan teknologi AI di perusahaan tersebut.
Keputusan hengkangnya LeCun disebut-sebut akan menjadi perubahan signifikan bagi Meta, terutama di tengah upaya perusahaan memperkuat investasi besar-besaran di bidang AI untuk mendukung produk dan platform seperti Facebook, Instagram, dan Threads.
Dampak terhadap Saham Meta dan Strategi AI
Laporan mengenai rencana kepergian LeCun datang setelah Meta berkomitmen untuk meningkatkan belanja besar-besaran di sektor AI, strategi yang sempat memicu kekhawatiran investor karena meningkatnya biaya operasional perusahaan.
Beberapa analis pasar menilai kabar hengkangnya LeCun turut menambah tekanan terhadap saham Meta, yang sudah menghadapi volatilitas akibat strategi ekspansi agresif di bidang kecerdasan buatan.
Sementara itu, Meta baru-baru ini melakukan restrukturisasi internal pada tim AI-nya. Posisi kepemimpinan proyek superintelligence kini dipercayakan kepada Alexandr Wang, yang disebut-sebut memiliki pendekatan lebih berorientasi pada produk komersial ketimbang riset jangka panjang.
Ketegangan antara Riset dan Komersialisasi AI
Sejumlah pengamat industri menilai potensi perpisahan LeCun dengan Meta mencerminkan pergeseran arah dalam industri AI global — dari penelitian fundamental menuju fokus yang lebih pragmatis pada pengembangan produk berbasis AI yang dapat segera menghasilkan keuntungan.
“Langkah ini menggambarkan ketegangan yang meningkat antara riset jangka panjang dan tekanan bisnis untuk segera mengomersialisasikan AI,” tulis salah satu analis yang dikutip dari laporan Financial Times.
Jika benar LeCun membangun perusahaannya sendiri, hal ini dapat menandai babak baru dalam perjalanan ilmuwan AI terkemuka tersebut, sekaligus membuka peluang lahirnya pemain baru di ekosistem startup kecerdasan buatan.
Meta belum memberikan komentar resmi terkait kabar rencana hengkangnya LeCun. Namun, jika benar terjadi, kepergian sosok sentral di balik riset AI perusahaan ini akan menjadi pukulan strategis bagi Meta di tengah persaingan ketat dengan raksasa teknologi lain seperti Google DeepMind, OpenAI, dan Anthropic. (ris)


as a preferred source on Google




