Surabaya (beritajatim.id) — Kasus dugaan kekerasan dalam pertandingan futsal yang melibatkan seorang pelatih berinisial BAZ (33) terhadap siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) berinisial BAIM di Surabaya resmi dihentikan, setelah pihak keluarga korban memutuskan mencabut laporan polisi.
Keputusan ini diambil setelah proses mediasi antara kedua pihak yang digelar di ruang Unit PPA Satreskrim Polrestabes Surabaya pada Selasa, 29 April 2025.
Bambang Sri Mahendra, ayah dari BAIM, menyampaikan bahwa permintaan maaf telah disampaikan secara langsung oleh BAZ. Namun yang paling menyentuh, menurutnya, adalah permintaan dari sang anak sendiri agar pelaku tidak diproses secara hukum.
“Anak kami secara spontan menyampaikan, ‘Jangan Pa, Pak guru ini jangan dipenjarakan’. Kami merasa tersentuh secara hati nurani. Kami juga manusia, tentu tidak luput dari kesalahan,” ujar Bambang saat ditemui Rabu (30/4/2025).
Bambang menegaskan bahwa meskipun laporan telah dicabut, kejadian ini menjadi pembelajaran hukum penting bagi semua pihak, termasuk orang tua, pelatih, dan penyelenggara kegiatan olahraga anak.
Permintaan Maaf dan Kompensasi
Bambang mengungkapkan bahwa pelatih BAZ telah menyampaikan permintaan maaf secara pribadi setelah laporan dibuat. Pihak keluarga juga berharap agar ada dukungan untuk biaya pengobatan BAIM sebagai bentuk tanggung jawab.
“Pelaku sudah minta maaf secara pribadi. Harapan kami, kami dibantu biaya pengobatan dan saya pikir itu hal yang manusiawi,” katanya.
Terkait informasi yang sempat beredar mengenai dugaan retak pada tulang ekor BAIM, Bambang memberikan klarifikasi. Ia menyebut bahwa hasil visum dari kepolisian tidak menunjukkan adanya keretakan, melainkan hanya memar di bagian punggung.
“Dari hasil visum hanya ditemukan lebam, tidak ada retakan. Informasi soal keretakan justru pertama kali kami terima dari pihak pelapor dan rumah sakit Al-Irsyad,” jelasnya.
Meski kasus ini telah diselesaikan secara damai, peristiwa tersebut menjadi refleksi penting tentang pentingnya pengawasan dalam kegiatan olahraga anak. Kejadian ini menyoroti perlunya pendidikan karakter bagi pelatih, serta komunikasi yang baik antara orang tua, sekolah, dan federasi olahraga. (ted)


as a preferred source on Google




