Lumajang (beritajatim.id) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Lumajang menjadi motor penggerak kedaulatan pangan, khususnya melalui penguatan peran petani dan optimalisasi lahan pertanian.
Ajakan tersebut disampaikan Khofifah saat menghadiri pelantikan pengurus DPC HKTI Lumajang masa bakti 2025–2030 di Pendopo Arya Wiraraja, Lumajang, Minggu (31/5/2025).
“Kedaulatan pangan harus dibangun dari desa, dari sawah, dan dari para petani. Saya harapkan HKTI Lumajang menjadi mitra strategis dalam meningkatkan produktivitas pertanian dan kesejahteraan petani,” tegas Khofifah.
Jawa Timur Tulang Punggung Ketahanan Pangan Nasional
Khofifah memaparkan bahwa Jawa Timur memiliki luas baku sawah 1.207.997 hektare, terdiri dari 719.598 hektare lahan irigasi dan 488.379 hektare lahan non-irigasi. Luas tersebut menjadikan provinsi ini sebagai salah satu pilar ketahanan pangan nasional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa luas panen padi Jatim mencapai 1,616 juta hektare, menghasilkan 9,270 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), atau setara 5,352 juta ton beras—kontribusi 17,44% terhadap total produksi padi nasional.
Periode Januari–April 2025, luas tanam padi di Jatim tercatat 924.697 hektare. Pemprov Jatim juga tengah mempercepat tanam pada Mei dengan target 233.896 hektare, dan hingga 23 Mei telah tercapai 62,37%.
Sinergi HKTI dan Pemerintah Kunci Kedaulatan Pangan
Gubernur Khofifah menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, organisasi tani seperti HKTI, serta Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) untuk mencapai target produktivitas pertanian yang berkelanjutan.
“Dengan sinergi yang solid, saya yakin kita mampu mewujudkan kedaulatan pangan, sekaligus meningkatkan taraf hidup petani di Jawa Timur,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran petani milenial, investasi, inovasi teknologi pertanian, dan perbaikan infrastruktur dalam mendorong pertumbuhan sektor pertanian di daerah.
Dorong Swasembada Gula Nasional dari Jatim
Tak hanya beras, Khofifah juga mendorong para petani—terutama generasi muda—untuk aktif mengembangkan komoditas tebu dalam rangka mewujudkan swasembada gula nasional.
“Kalau secara nasional 1 hektare tebu menghasilkan 5 ton gula, di Jawa Timur bisa 20 ton. Artinya produktivitas kita empat kali lipat dari rata-rata nasional,” jelasnya.
Dengan potensi besar tersebut, Khofifah yakin Jatim bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan gula dalam negeri, tetapi juga berpeluang untuk mengekspor ke luar negeri di masa depan.
“Beberapa negara sudah mulai indent untuk membeli beras dari petani kita. Suatu saat, bukan tidak mungkin kita juga bisa ekspor gula,” tegasnya.
Dukungan Pemkab Lumajang dan HKTI
Bupati Lumajang Indah Amperawati menyampaikan komitmennya untuk mendukung HKTI dalam memajukan pertanian lokal dan mendukung swasembada pangan.
“Kami berharap Ibu Gubernur bisa menambah bantuan seperti Combine Harvester agar produksi beras kami semakin optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua HKTI Jawa Timur Arum Sabil berharap HKTI Lumajang mampu menjadi kekuatan baru dalam mewujudkan ketahanan pangan, dan Ketua HKTI Lumajang Jammaludin menegaskan dukungannya terhadap program dan kebijakan Gubernur Jatim.
“Kami akan menjadi garda terdepan dalam menjaga Jatim sebagai lumbung pangan nasional,” pungkas Jammaludin. (adi/ted)

as a preferred source on Google




