Surabaya (beritajatim.id) – Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya resmi meluncurkan Fakultas Kedokteran ke-8 di lingkungan kampus nasionalis tersebut. Acara peluncuran digelar megah di Auditorium R. Soeparman Hadipranoto, Graha Wiyata Lantai 9, Kamis (10/7/2025), dengan mengusung tema “Patriot Merah Putih Mewujudkan Generasi Medis Penjaga Napas Bangsa.”
Tiga tokoh nasional di bidang kesehatan hadir sebagai pembicara utama, yaitu dr. Reisa Broto Asmoro, Prof. Dr.med. Puruhito, MD, FICS, FAMM, dan Prof. Dr. H. Dikman, dr., Sp.And., MARS. Mereka tampil dalam sesi talkshow yang menjadi rangkaian utama peluncuran.
Fokus pada Sistem Pernapasan dan Nilai Patriotisme
Dalam paparannya, dr. Reisa menyoroti pentingnya sistem pernapasan dalam pendidikan kedokteran, mengingat tingginya angka penyakit pernapasan di Indonesia seperti tuberkulosis, pneumonia, asma, hingga kanker paru yang diperparah oleh polusi udara.
“Kita harus mengapresiasi FK Untag Surabaya yang memang fokus pada bidang pernapasan, yang menjadi isu kesehatan krusial di Indonesia,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi medis, agar dokter mampu menyampaikan informasi kesehatan secara efektif kepada masyarakat.
Sementara itu, Prof. Puruhito menegaskan bahwa dokter yang dibentuk oleh FK Untag harus memiliki jiwa patriot merah putih. Ia mendorong integrasi teknologi kedokteran modern seperti AI, VR, stem cell, dan nanoteknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan.
“Dokter patriotik adalah semangat yang harus terus diusung dalam pendidikan kedokteran di Indonesia,” tegasnya.
Senada, Prof. Dikman menekankan pentingnya membentuk dokter yang tidak hanya cakap secara medis, tetapi juga memiliki dedikasi terhadap kemanusiaan dan pengabdian kepada bangsa. Menurutnya, FK Untag hadir sebagai institusi yang menjembatani antara kemajuan teknologi dan nasionalisme.
Perjuangan 7 Tahun Mewujudkan Fakultas Kedokteran
Dekan FK Untag Surabaya, dr. Poerwadi, Sp.B., Sp.BA., Subsp. DA (K), mengisahkan perjuangannya selama tujuh tahun mendirikan fakultas ini.
“Meski usia saya 76 tahun, saya masih berdiri di sini karena semangat para sesepuh, demi bangsa dan negara. Saya ingin mendidik dokter yang berjiwa nasionalis dan patriotik,” ucapnya haru.
Ia juga mengenang pengalamannya sebagai dokter muda di Bungku, Sulawesi Tengah, yang membentuk karakter patriotiknya. “Saya sangat menghayati makna PERTIWI dan akan mempertaruhkan nama saya demi kualitas ini,” tandasnya.
Fakultas Kedokteran Untag Surabaya ini berdiri berdasarkan SK Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI No. 69/A/O/2024, dan memiliki visi besar menjadi fakultas unggul berbasis nilai, karakter bangsa, dan jiwa patriot, dengan fokus pada kedokteran pencegahan khususnya penyakit infeksi sistem pernapasan seperti pneumonia.
Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, M.M., CMA., CPA., menyatakan bahwa pendirian FK merupakan bagian dari implementasi Catur Dharma Untag yang berfokus pada semangat patriotisme.
“Semua fakultas di Untag, termasuk FK ini, diarahkan untuk mencetak lulusan yang mengutamakan kepentingan bangsa,” jelasnya.
Turut hadir Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., yang mengapresiasi perjuangan panjang Untag dalam mendirikan FK.
“Setelah tujuh tahun perjuangan, akhirnya kampus nasionalis ini berhasil melahirkan Fakultas Kedokteran. Kami bangga karena Jatim menjadi rumah bagi FK yang tak hanya mencetak dokter kompeten, tetapi juga patriotik,” ujarnya.
Simbolis dan Dukungan LLDIKTI
Prosesi peresmian ditandai dengan pemindaian tangan secara simbolis oleh Rektor, Ketua YPTA, Dekan FK, dan Wakil Gubernur Jatim. Acara dilanjutkan dengan penyerahan cinderamata serta sambutan dari Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jatim, Prof. Dyah Sawitri, yang menyebut FK Untag sebagai kontribusi strategis untuk pendidikan tinggi.
“FK ini menjadi aset strategis karena fokus risetnya berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Acara ini turut dihadiri oleh jajaran struktural YPTA Surabaya, sivitas akademika, para kepala bagian dan tenaga kependidikan, hingga siswa dari 30 SMA se-Jawa Timur, serta kepala puskesmas dari Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. (dya/ted)


as a preferred source on Google



