Surabaya (beritajatim.id) — Fenomena bediding tengah dirasakan oleh masyarakat Surabaya dan sekitarnya sejak awal Juli 2025. Istilah bediding merujuk pada kondisi suhu udara dingin yang muncul di musim kemarau, khususnya di malam dan dini hari. Meski bukan istilah ilmiah, istilah ini sudah sangat dikenal oleh masyarakat Jawa Timur.
Menanggapi kondisi tersebut, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga, Dr. Kurnia Dwi Artanti, dr., M.Sc., menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan hal yang lumrah terjadi setiap tahunnya.
“Fenomena bediding ini memang terjadi justru di musim kemarau. Biasanya dimulai pada bulan Juni, meningkat di Juli, dan menurun pada Agustus saat peralihan menuju musim hujan,” terangnya.
Waspadai Gangguan Pernapasan Selama Bediding
Dr. Kurnia menjelaskan bahwa selama fenomena bediding, kelembapan udara cenderung menurun. Akibatnya, tubuh akan terasa lebih kering dan rentan terhadap dehidrasi. Kondisi ini juga bisa berdampak pada saluran pernapasan, terutama bagi mereka yang sistem imunnya sedang tidak optimal.

“Tenggorokan yang terasa tidak nyaman bisa menjadi tanda awal radang. Bila dalam kondisi tersebut ada infeksi bakteri dan tubuh sedang tidak fit, itu bisa berkembang menjadi ISPA,” jelasnya. Ia menambahkan, gejala seperti batuk berdahak kekuningan bisa menjadi indikator bahwa infeksi telah terjadi.
Tips Pencegahan: Cukupi Cairan dan Perkuat Daya Tahan Tubuh
Tak hanya berisiko mengganggu pernapasan, udara dingin dan kering juga dapat menyebabkan kulit menjadi kering. Untuk itu, Dr. Kurnia menyarankan penggunaan pelembap kulit agar kelembapannya tetap terjaga.
Sementara itu, dari sisi konsumsi, ia mengimbau masyarakat untuk menjaga asupan cairan dan nutrisi. “Supply air ke tubuh jangan sampai kurang. Untuk berat badan 50 kg, minimal butuh 2 liter air per hari. Bisa juga ditambah vitamin A, C, dan E untuk kesehatan kulit, serta vitamin D untuk menjaga imunitas,” sarannya.
Tetap Waspada Tanpa Panik
Meski fenomena ini dianggap normal dan tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan, sikap waspada tetap perlu dilakukan. “Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir, yang penting selalu waspada. Asalkan kita melakukan upaya preventif dan proteksi pribadi,” pungkasnya.
Adapun beberapa langkah preventif yang direkomendasikan antara lain:
- Minum air putih yang cukup
- Mengonsumsi buah dan sayur secara rutin
- Menjaga kondisi tubuh tetap hangat
- Menggunakan pelembap kulit
- Mengonsumsi vitamin tambahan jika diperlukan
Dengan langkah-langkah sederhana ini, masyarakat diharapkan tetap sehat dan bugar meski suhu udara tengah menurun drastis. (dya/ted)


as a preferred source on Google




