Washington DC (beritajatim.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memutuskan untuk menarik keanggotaan AS dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Keputusan ini diumumkan oleh Gedung Putih pada Selasa (23/7) dan akan resmi berlaku pada akhir tahun 2026.
Langkah tersebut merupakan pengulangan dari kebijakan yang diambil Trump saat menjabat pada periode pertama, sebelum akhirnya dibatalkan oleh Presiden Joe Biden pada 2023. Trump menyebut UNESCO sebagai organisasi yang mendukung agenda “woke” dan memecah belah, serta tidak sejalan dengan kebijakan luar negeri America First yang ia usung.
“UNESCO mendukung agenda budaya dan sosial yang terkesan ‘woke’ dan tidak sejalan dengan kebijakan akal sehat yang dipilih rakyat Amerika,” kata Juru Bicara Gedung Putih, Anna Kelly.
Departemen Luar Negeri AS menambahkan bahwa kebijakan UNESCO, termasuk keputusannya mengakui Palestina sebagai negara anggota penuh, dinilai bertentangan dengan kebijakan luar negeri AS dan memperkuat retorika anti-Israel.
“Keputusan untuk mengakui Palestina sebagai anggota penuh sangat bermasalah, bertentangan dengan kebijakan AS, dan memperparah bias terhadap Israel,” ujar pernyataan resmi dari Departemen Luar Negeri AS.
Reaksi Dunia: Prancis Kecewa, Israel Sambut Gembira
Keputusan Amerika Serikat ini langsung mendapat tanggapan dari berbagai negara. Direktur Jenderal UNESCO, Audrey Azoulay, menyatakan bahwa ia sangat menyesalkan keputusan Trump, meskipun telah mempersiapkan diri untuk skenario tersebut.
“Ini adalah keputusan yang disayangkan, tapi tidak mengejutkan. UNESCO sudah bersiap,” ujar Azoulay.
Presiden Prancis Emmanuel Macron turut menyuarakan dukungan terhadap UNESCO. Dalam unggahannya di platform X (dulu Twitter), Macron menyebut UNESCO sebagai “pelindung warisan dunia yang universal” dan menegaskan bahwa komitmen Prancis tidak akan goyah.
Sementara itu, Israel menyambut baik keputusan Washington. Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menuding UNESCO kerap bersikap keliru dan memiliki bias konsisten terhadap Israel.
“Terima kasih kepada AS atas dukungan moral dan kepemimpinannya,” tulis Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar. Ia juga menyerukan diakhirinya politisasi dan diskriminasi terhadap Israel di lembaga-lembaga PBB.
AS dan UNESCO: Hubungan yang Penuh Gejolak
UNESCO dikenal luas karena perannya dalam menetapkan Situs Warisan Dunia seperti Grand Canyon di AS dan Piramida di Mesir. Saat ini terdapat 26 situs warisan dunia yang berada di wilayah Amerika Serikat, termasuk Patung Liberty.
Namun, hubungan AS dengan lembaga ini memang telah lama mengalami pasang surut. AS merupakan salah satu pendiri UNESCO pada 1945, namun pertama kali keluar dari organisasi tersebut pada 1984 karena dugaan salah urus keuangan dan bias anti-Amerika semasa Perang Dingin.
AS kembali bergabung pada 2003 di bawah pemerintahan Presiden George W. Bush setelah reformasi dilakukan UNESCO. Namun, pada 2011, pemerintahan Obama menghentikan pendanaan kepada UNESCO setelah organisasi itu memberikan keanggotaan penuh kepada Palestina.
Pada 2017, di bawah pemerintahan Trump, AS resmi keluar dan meninggalkan utang sebesar US$542 juta. Keputusan tersebut kemudian dibatalkan oleh Presiden Biden pada 2023, yang membawa AS kembali ke dalam keanggotaan aktif.
Kini, jika Trump kembali menjabat pada 2025 dan melanjutkan niatnya, penarikan AS dari UNESCO akan kembali berlaku mulai akhir 2026. (dya/ted)


as a preferred source on Google



