Surabaya (beritajatim.id) – Pernah dengar istilah brainrot atau meme anomali yang lagi ramai di TikTok? Keduanya kini jadi bagian dari tren digital yang cukup populer, terutama di kalangan Gen Z dan anak-anak usia sekolah. Tapi di balik kelucuan dan keanehan konten itu, ada hal yang perlu diwaspadai terutama jika dikonsumsi oleh anak di usia dini.
Brainrot secara harfiah berarti pembusukan otak, tapi dalam konteks internet, istilah ini merujuk pada kebiasaan mengonsumsi konten super cepat, absurd, tanpa makna jelas, dan kadang terlalu intens secara visual dan suara. Sedangkan meme anomali adalah jenis konten visual yang sengaja dibuat aneh, rusak, dan bahkan mengganggu, supaya terlihat lucu atau relatable. Misalnya, video kartun yang wajahnya meleleh, suara tumpang tindih, atau potongan teks besar-besar yang nggak nyambung.
Masalahnya, anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang otak sangat mudah terdampak oleh konten seperti ini. Banyak psikolog menyebutkan bahwa konsumsi konten brainrot secara berlebihan bisa menurunkan kemampuan fokus anak, membuat mereka gampang bosan dengan hal-hal yang ritmenya lambat seperti pelajaran sekolah atau membaca buku. Otak mereka terbiasa dengan rangsangan cepat, padat, dan acak, sehingga kesulitan menerima informasi dalam format normal.
Selain itu, konten seperti ini bisa memicu overstimulasi. Bayangkan saja, setiap hari anak-anak disuguhi video dengan warna mencolok, suara keras, dan gambar yang berubah-ubah dengan sangat cepat. Ini bukan cuma melelahkan otak, tapi juga bisa membuat mereka jadi gelisah, mudah marah, susah tidur, bahkan cemas berlebihan tanpa sebab yang jelas.
Dampak lainnya adalah hilangnya pemahaman tentang realita. Karena terbiasa menertawakan hal absurd, kekerasan yang dibungkus humor, atau konten kacau yang katanya lucu, anak bisa saja mulai melihat hal-hal serius sebagai hiburan semata. Bahkan tak sedikit yang mulai meniru gaya bicara, ekspresi, atau membuat konten serupa demi viral, tanpa memahami dampaknya.
Yang lebih mengkhawatirkan, TikTok dan algoritmanya sangat pintar dalam membaca minat pengguna. Sekali anak tertarik pada konten brainrot, maka konten serupa akan terus muncul. Ini yang menyebabkan mereka sulit berhenti menonton dan akhirnya masuk dalam siklus doomscrolling—scroll terus tanpa henti, sampai waktu tidur pun terlewat.
Tapi bukan berarti TikTok atau media sosial harus dihindari sepenuhnya. Yang dibutuhkan adalah pendampingan dan literasi digital. Orang tua bisa mulai dengan memahami apa yang sedang ditonton anak, lalu berdiskusi ringan. Tanyakan kenapa mereka menyukai video tersebut, apakah mereka mengerti isi kontennya, dan ajak bicara soal batasan waktu layar.
Alih-alih melarang, arahkan. Kenalkan konten yang positif, edukatif, dan tetap menyenangkan. Ada banyak kreator yang membuat konten belajar, eksperimen sains, cerita motivasi, dan bahkan animasi lucu yang tetap ramah anak.
Di era digital ini, anak-anak memang tumbuh di tengah layar. Tapi bukan layarnya yang salah, melainkan bagaimana kita mengajarkan mereka untuk menggunakannya dengan bijak. Karena pada akhirnya, anak-anak bukan cuma butuh hiburan, tapi juga bimbingan.


as a preferred source on Google




