Surabaya (beritajatim.id) – Fenomena Gen Z Stare kini tengah ramai diperbincangkan, baik di media sosial maupun di lingkungan kerja. Istilah ini merujuk pada kebiasaan Generasi Z yang kerap menampilkan tatapan kosong saat terlibat dalam percakapan sehari-hari, khususnya ketika berinteraksi dengan generasi yang lebih tua seperti milenial atau boomer.
Bagi sebagian orang, tatapan tersebut terasa canggung bahkan dianggap kurang sopan karena lawan bicara seolah merasa diabaikan. Namun, para pakar menegaskan bahwa fenomena ini tidak sesederhana kelihatannya. Ada konteks psikologis dan sosial yang perlu dipahami agar tidak terjadi salah tafsir antar generasi.
Secara sederhana, Gen Z Stare menggambarkan ekspresi wajah tanpa reaksi yang ditunjukkan anak muda dari generasi Z ketika menghadapi percakapan. Tatapan kosong ini sering kali membuat suasana percakapan terasa hening atau kikuk. Meski demikian, psikolog klinis menjelaskan bahwa fenomena ini bukanlah tanda ketidakpedulian atau sikap dingin.
Banyak orang menilai bahwa Gen Z cenderung kurang terbiasa dengan percakapan tatap muka yang mengandalkan basa-basi. Hal ini dipengaruhi oleh masa pandemi yang membuat mereka lebih sering berinteraksi secara daring. Sementara generasi milenial dan boomer lebih terlatih dalam percakapan langsung, Gen Z justru merasa lebih nyaman dengan komunikasi digital yang serba cepat dan praktis.
Di lingkungan kerja, fenomena Gen Z Stare bisa menimbulkan kesalahpahaman. Atasan atau rekan kerja dari generasi lebih tua mungkin menilai Gen Z tidak antusias atau tidak sopan. Padahal, realitanya banyak dari mereka hanya belum menemukan gaya komunikasi yang tepat.
Bila tidak dipahami, perbedaan ini bisa menciptakan jarak antar generasi di dunia kerja. Oleh karena itu, penting adanya komunikasi terbuka lintas generasi agar fenomena ini tidak menjadi hambatan, melainkan kesempatan untuk membangun pemahaman yang lebih baik.
Dengan terus berkembangnya dunia digital dan cara berkomunikasi yang semakin beragam, tidak menutup kemungkinan bahwa Gen Z Stare akan menjadi ciri khas generasi ini di masa depan. Namun, para ahli menekankan bahwa hal ini sebaiknya tidak dipandang negatif. Sebaliknya, perlu ada usaha bersama untuk menjadikan fenomena ini sebagai jembatan komunikasi, bukan jurang pemisah.
Fenomena Gen Z Stare bukan sekadar tatapan kosong, melainkan refleksi dari perubahan cara berkomunikasi di era digital. Generasi Z sedang beradaptasi dengan dunia sosial dan profesional yang berbeda dari generasi sebelumnya. Dengan pemahaman yang lebih luas serta komunikasi yang terbuka, fenomena ini bisa menjadi pintu menuju hubungan lintas generasi yang lebih harmonis di masyarakat modern. (aga)


as a preferred source on Google




