Probolinggo (beritajatim.id) – Tahapan validasi lapangan dalam Penilaian Kota Sehat 2025 resmi dimulai. Kota Probolinggo menjadi salah satu kota yang menerima kunjungan Tim Validasi Lapangan Kota Sehat yang terdiri dari perwakilan kementerian dan lembaga pusat.
Rombongan disambut langsung oleh Wali Kota Probolinggo, Aminuddin, di Command Centre Kantor Wali Kota. Turut hadir Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari, Pj. Sekda Rey Suwigtyo, jajaran kepala perangkat daerah, camat, lurah, Forum Kota Sehat, hingga perwakilan seluruh puskesmas se-Kota Probolinggo.
Wali Kota Aminuddin menegaskan bahwa pihaknya menyambut proses validasi dengan penuh keterbukaan, menampilkan kondisi lapangan sebagaimana adanya. Ia menyatakan bahwa komitmen Kota Probolinggo bukan sekadar mengejar penghargaan, tetapi berfokus pada keberlanjutan kota melalui penguatan aspek kebersihan, keindahan, dan fungsinya sebagai kota transit, pelabuhan, sekaligus destinasi wisata. Dengan slogan “Bersolek”, pemerintah kota berupaya memperkuat identitas sebagai kota yang tidak hanya cantik secara visual, tetapi juga sehat secara menyeluruh.
Aminuddin menyoroti pentingnya tiga pilar utama dalam pembangunan kota sehat: pendidikan, kesehatan, dan kebersihan. Ia menyebutkan berbagai inovasi telah dijalankan, mulai dari sistem pemantauan angka kematian ibu dan bayi melalui dashboard digital, hingga program pengelolaan sampah yang melibatkan BUMN.
Pemerintah juga menargetkan Kota Probolinggo meraih penghargaan Adipura serta memperkuat perlindungan anak, pemberdayaan perempuan, dan kesejahteraan kelompok difabel. Dalam aspek sosial ekonomi, ia menyampaikan bahwa berdasarkan data BPS, angka kemiskinan di Kota Probolinggo menunjukkan tren penurunan signifikan dan ditargetkan turun hingga satu digit dalam waktu dekat.
Adam Udi Velianto dari Direktorat Sinkronisasi Urusan Pemerintah Daerah III Kemendagri menjelaskan bahwa validasi dilakukan dua tahun sekali dengan 136 indikator yang melibatkan berbagai sektor. Tim validasi beranggotakan sepuluh orang dari pusat dan provinsi, melakukan observasi langsung terhadap fasilitas, layanan, dan implementasi program di lapangan sebagai dasar penilaian nasional.
Sementara itu, perwakilan dari Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Diana Gunawan, menyampaikan bahwa kehadiran tim tidak semata untuk menilai, tetapi juga memberikan arahan dan pendampingan bagi pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas hidup warganya. Ia menekankan bahwa tujuan utama program ini adalah mendorong terciptanya kota yang benar-benar sehat dan inklusif.
Setelah sesi pemaparan, tim validasi langsung melakukan peninjauan ke sembilan titik yang telah ditentukan oleh Bappeda Litbang Kota Probolinggo. Lokasi tersebut meliputi Early Warning System di Kedunggaleng, Pusdalops BPBD, Terminal Bayuangga, jalur sepeda, Puspaga (Pusat Pembelajaran Keluarga), Pantai Mayangan, Stasiun Probolinggo, hingga kawasan wisata BJBR. Validasi ini dijadwalkan berlangsung selama dua hari, yakni 25–26 September 2025.
Penilaian Kota Sehat mencakup berbagai indikator, di antaranya kesehatan masyarakat mandiri, pemukiman dan fasilitas umum, pendidikan, pasar, perkantoran dan kawasan industri, pariwisata, transportasi dan ketertiban lalu lintas, perlindungan sosial, serta penanggulangan bencana. Seluruh aspek ini menjadi tolok ukur dalam menciptakan kota yang bukan hanya nyaman untuk dihuni, tetapi juga berkelanjutan secara sosial dan lingkungan. (adi)


as a preferred source on Google




