Gaza (beritajatim.id) – Israel dan Hamas akhirnya menyepakati gencatan senjata dan pertukaran sandera dalam sebuah kesepakatan bersejarah yang menjadi fase awal dari rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kesepakatan ini merupakan langkah paling signifikan dalam upaya menghentikan perang di Gaza yang telah berlangsung dua tahun dan menewaskan lebih dari 67.000 orang, menurut otoritas Gaza.
Kesepakatan ini diumumkan pada Rabu malam waktu Washington, sehari setelah peringatan dua tahun serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu agresi militer besar-besaran Israel ke Jalur Gaza.
Dalam pengumuman melalui platform Truth Social, Trump menyebut kesepakatan ini sebagai “langkah pertama menuju perdamaian yang kuat, tahan lama, dan abadi”. Ia juga memastikan bahwa seluruh sandera akan segera dibebaskan dan pasukan Israel akan ditarik ke garis yang telah disepakati.
Peringatan dan Perayaan dari Dua Sisi Konflik
Di Israel, kabar kesepakatan disambut suka cita oleh keluarga para sandera. Mereka merayakan dengan kembang api dan berkumpul di Alun-Alun Sandera di Tel Aviv. Salah satu keluarga, Hatan Angrest, yang anaknya Matan masih ditahan di Gaza, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Trump, “Anak-anak kami tidak akan pulang tanpa bantuannya.”
Sementara di Gaza, warga yang telah lama hidup dalam penderitaan menyambut harapan baru. “Seluruh Gaza senang, seluruh dunia Arab senang, dunia senang dengan gencatan senjata ini,” kata Abdul Majeed abd Rabbo dari Khan Younis.
Namun, militer Israel memperingatkan bahwa sebagian wilayah Gaza masih merupakan zona pertempuran aktif, dan mengimbau warga untuk tidak kembali ke wilayah-wilayah tersebut demi keselamatan.
Rincian Kesepakatan: Pertukaran Sandera dan Penarikan Pasukan
Menurut sumber Hamas, sandera yang masih hidup — sekitar 20 orang dari 48 yang masih ditahan — akan dibebaskan dalam 72 jam setelah pemerintah Israel meratifikasi kesepakatan tersebut. Adapun pemulangan jenazah sekitar 28 sandera yang diyakini tewas akan memerlukan waktu lebih lama karena kondisi reruntuhan di Gaza.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Hamas dan Israel juga menyetujui pertukaran tahanan, namun belum diungkapkan jumlah atau identitas dari masing-masing pihak yang akan dibebaskan.
Reaksi Politik: Antara Diplomasi dan Kepentingan Dalam Negeri
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa kesepakatan ini merupakan “kemenangan diplomatik dan moral” bagi negaranya. Ia juga mengumumkan akan segera mengajukan kesepakatan tersebut ke kabinet untuk disetujui.
Trump, yang sedang bersiap kembali mencalonkan diri dalam pemilu presiden AS, menyebut keberhasilan ini sebagai pencapaian besar dalam kebijakan luar negerinya. Kesepakatan ini datang di tengah kritik terhadap kinerjanya dalam menyelesaikan konflik global, termasuk perang Rusia-Ukraina.
Pertanyaan Besar Pasca-Gencatan Senjata
Walau kesepakatan ini disambut luas, banyak pihak menyoroti kurangnya rincian dalam dokumen kesepakatan. Belum jelas siapa yang akan mengelola Gaza pascaperang. AS, Israel, dan negara-negara Arab telah menolak peran Hamas dalam pemerintahan masa depan Gaza, sementara Hamas menyatakan hanya akan menyerahkan kendali kepada pemerintahan teknokrat Palestina yang diawasi Otoritas Palestina dengan dukungan negara-negara Arab dan Muslim.
Trump juga mengusulkan pembentukan badan internasional pascaperang yang dipimpin olehnya dan melibatkan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Namun, usulan ini ditolak oleh Hamas yang menolak campur tangan asing dalam pemerintahan Gaza.
Respons Internasional dan Dampak Global
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut baik kesepakatan ini dan menyerukan semua pihak untuk mematuhi ketentuan kesepakatan sepenuhnya. Ia juga mendesak agar bantuan kemanusiaan dan barang komersial penting dapat segera masuk ke Gaza tanpa hambatan.
Konflik ini telah memicu reaksi global, dengan banyak pihak menuduh Israel melakukan pelanggaran HAM berat. Sebuah penyelidikan PBB dan berbagai pakar hukum internasional bahkan menyebut tindakan Israel sebagai indikasi genosida. Israel sendiri tetap menyatakan bahwa seluruh tindakannya adalah bentuk pembelaan diri atas serangan mendadak Hamas tahun 2023 yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang lainnya.
Selain dampak kemanusiaan, kesepakatan gencatan senjata ini juga memberi efek langsung terhadap pasar global. Harga minyak dunia tercatat menurun setelah pengumuman kesepakatan, mengingat potensi gangguan pasokan energi dari wilayah Timur Tengah mulai mereda. (hdl)


as a preferred source on Google



