Jakarta (beritajatim.id) – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mendapatkan apresiasi atas komitmennya dalam mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Hal ini disampaikan oleh Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), drh. Slamet, yang menilai bahwa arah kebijakan pangan nasional saat ini selaras dengan visi besar dalam Asta Cita.
Menurut Slamet, langkah-langkah pemerintah dalam satu tahun pertama masa jabatan menunjukkan hasil yang menggembirakan di berbagai sektor strategis, termasuk peningkatan produksi, kesejahteraan petani, serta stabilisasi pasokan pangan.
“Presiden Prabowo telah menunjukkan langkah nyata dalam mengembalikan marwah kedaulatan pangan yang berpihak pada petani, nelayan, dan peternak,” ujar Slamet dalam keterangannya di Jakarta.
Anggaran Ketahanan Pangan Naik Tajam
Slamet menyoroti alokasi anggaran ketahanan pangan yang meningkat signifikan, dari Rp155,2 triliun pada 2025 menjadi proyeksi Rp164 triliun pada 2026. Ia menyebut kenaikan anggaran ini sebagai bukti keseriusan pemerintah dalam memperkuat fondasi ketahanan pangan nasional.
Berbagai kebijakan dan instrumen pengendalian pasar yang diterapkan juga disebut mampu menjaga stabilitas harga pangan, khususnya beras, di tingkat petani dan konsumen.
Produksi dan Kesejahteraan Petani Meningkat
Data terbaru menunjukkan indikator positif di sektor pertanian. Produksi beras dan jagung meningkat signifikan, dengan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencapai hampir 3,9 juta ton, penyaluran beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencapai 344 ribu ton, serta proyeksi produksi jagung hingga akhir tahun diperkirakan menembus 15,25 juta ton.
Selain itu, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional tercatat mencapai 124,36, yang menjadi sinyal positif terhadap peningkatan daya beli dan kesejahteraan petani.
Pupuk Subsidi Langsung ke Petani Dinilai Efektif
Slamet juga mengapresiasi kebijakan baru pemerintah dalam menyalurkan pupuk subsidi langsung ke petani, yang dinilai efektif dalam mengatasi persoalan klasik kelangkaan pupuk.
“Kebijakan pupuk langsung ke petani menjawab keluhan klasik soal kelangkaan pupuk dan menjadi terobosan penting dalam tata kelola input pertanian,” tambahnya.
Tantangan: Harga Pangan Masih Tinggi dan Ketergantungan Impor
Meski berbagai indikator menunjukkan perbaikan, Slamet menegaskan masih ada tantangan yang perlu segera diatasi. Ia menyebut harga sejumlah komoditas pangan strategis seperti beras, gula, daging, dan kedelai masih cenderung tinggi, terutama menjelang musim paceklik.
“Kestabilan pasokan belum otomatis menjamin harga terjangkau bagi rakyat,” katanya.
Slamet juga mengingatkan bahwa ketergantungan terhadap impor masih tinggi, terutama untuk komoditas seperti bawang putih, kedelai, daging sapi, gula, dan garam industri. Di samping itu, kepemilikan lahan petani yang rendah serta program cetak sawah baru dinilai perlu evaluasi menyeluruh.
Dorongan untuk Kebijakan Pangan Berkelanjutan
Sebagai penutup, Slamet menekankan pentingnya memperluas cakupan kebijakan pangan agar tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi dan stabilisasi jangka pendek, tetapi juga mencakup aspek keadilan, keberlanjutan, dan kemandirian pangan berbasis kekuatan lokal.
“Kebijakan pangan harus menyentuh akar masalah dan memandirikan petani, bukan sekadar menjamin pasokan,” tutupnya. (hdl)


as a preferred source on Google




