Malang (beritajatim.id) – Jamu merupakan produk minuman kesehatan asli Indonesia. Jamu kini mulai go international. Dua dosen Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Brawijaya (UB) sekaligus pengurus Pusat Inovasi Jamu dan Biofarmaka UB berpartisipasi dalam ajang internasional ICNIM 2025 (International Congress on Nutrition and Integrative Medicine) yang diselenggarakan di Sapporo, Jepang.
Keduanya adalah Prof.Dr.Ir. Moch. Sasmito Djati, M.S.,IPU., ASEAN Eng., Profesor di Biologi FMIPA UB yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Inovasi Jamu dan Biofarmaka UB dan Ketua Dewan Jamu Indonesia (DJI) Jawa Timur (Jatim). Dia menyampaikan presentasi ilmiah terkait khasiat jamu sebagai agen antikanker.
Dalam paparannya, Sasmito menegaskan bahwa jamu memiliki potensi besar sebagai terapi komplementer berbasis bioaktif herbal yang bekerja pada target molekuler penting dalam perkembangan kanker.
Staf pengajar UB lainnya adalah Dr. Dinia Rizqi Dwijayanti, S.Si., M.Si., D.Sc., dosen Biologi FMIPA UB yang juga menjabat sebagai Sekretaris Pusat Inovasi Jamu dan Biofarmaka UB serta Sekretaris Dewan Jamu Indonesia (DJI) Jatim.
Dr Dinia mempresentasikan hasil penelitian mengenai peran jamu sebagai terapi anti-diabetes. Penelitiannya menekankan efektivitas formula jamu dalam mengatasi hiperglikemia, resistensi insulin, serta inflamasi metabolik, sebagai pendekatan intervensi berbasis pengobatan integratif.
Pada konferensi internasional ini, Dinia berhasil meraih Best Poster Presenter Award, sebuah capaian bergengsi yang menjadikannya satu-satunya perwakilan Indonesia yang memperoleh penghargaan dalam ICNIM 2025.
Prestasi ini semakin menegaskan pengakuan global terhadap riset jamu yang dikembangkan UB.
Partisipasi ini menjadi momentum strategis UB dalam memperkuat eksistensi jamu sebagai bagian dari evidence-based integrative medicine di tingkat internasional, memperluas jejaring kolaborasi global di bidang nutrisi, kesehatan preventif, dan pengobatan herbal.
Selain itu, membuka peluang riset bersama, publikasi internasional, serta hilirisasi produk berbasis jamu, dan mendorong standardisasi keilmuan jamu agar dapat sejajar dengan sistem kesehatan komplementer global lainnya.
“Kami ingin jamu tidak hanya dikenal sebagai warisan budaya, tetapi juga diakui sebagai solusi kesehatan ilmiah yang terintegrasi dalam pengembangan terapi dunia,” ungkap Dinia dalam forum ICNIM 2025.
Kontribusi UB dalam ICNIM 2025 juga relevan dengan pencapaian target global: SDG 3 – Good Health and Well-Being (inovasi jamu sebagai terapi preventif dan suportif penyakit kronis), SDG 4 – Quality Education (penguatan kultur riset dan pendidikan berbasis bukti ilmiah), SDG 9 – Industry, Innovation, and Infrastructure (hilirisasi inovasi biofarmaka berbasis herbal), dan SDG 17 – Partnerships for the Goals (kolaborasi internasional di bidang integrative medicine).
Keikutsertaan Universitas Brawijaya di ICNIM 2025 menjadi bukti nyata komitmen UB dalam mengangkat potensi jamu dari tingkat nasional menuju pengakuan global melalui riset, inovasi, dan kolaborasi strategis. (air)


as a preferred source on Google



