New York (beritajatim.id) – Bursa saham Amerika Serikat bergerak positif pada perdagangan Selasa waktu setempat, dipicu serangkaian data ekonomi yang dianggap memperkuat peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve berikutnya. Indeks S&P 500 naik 0,7 persen dengan mayoritas saham di dalamnya menghijau, sementara Dow Jones Industrial Average meningkat 1,2 persen. Nasdaq Composite turut menguat 0,4 persen.
Meski indeks utama kompak menguat, pergerakan saham di sektor teknologi—khususnya yang terkait industri kecerdasan buatan (AI)—menunjukkan dinamika tajam. Saham Alphabet kembali naik 1,3 persen didukung antusiasme terhadap model AI Gemini. Sebaliknya, Alibaba yang sempat menguat berbalik melemah 2,1 persen setelah laporan pendapatan menunjukkan profit yang tidak memenuhi ekspektasi meski pendapatannya melampaui proyeksi analis.
Tekanan muncul pada sejumlah perusahaan semikonduktor. Laporan The Information mengenai pembicaraan Meta Platforms yang dikabarkan mempertimbangkan pembelian chip AI dari Alphabet membuat saham Nvidia turun 3,9 persen, menjadi penekan terbesar S&P 500. Advanced Micro Devices juga merosot tajam, melemah 6,9 persen.
Saham Ritel Melonjak Usai Laporan Kinerja Beragam
Pergerakan kontras terjadi pada sektor ritel. Abercrombie & Fitch melonjak 35,1 persen setelah mencatatkan laba di atas ekspektasi serta menaikkan proyeksi pendapatan sepanjang tahun. Kohl’s juga meningkat 34,9 persen setelah berhasil membukukan profit pada kuartal terakhir ketika pasar memperkirakan kerugian. Best Buy menguat 5,3 persen karena kenaikan proyeksi laba, didorong kinerja kuat di kategori komputer, gim, dan ponsel.
Di sisi lain, Dick’s Sporting Goods sempat melemah lebih dari 4 persen sebelum akhirnya berbalik naik 2,3 persen. Perusahaan itu mencatatkan laba yang lebih rendah dari perkiraan. Executive Chairman Ed Stack menyampaikan bahwa langkah penataan ulang inventori di Foot Locker—perusahaan yang baru diakuisisi—menjadi faktor yang mempengaruhi kinerja.
Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga Menguat
Optimisme pasar turut dipengaruhi peluang pemangkasan suku bunga pada 10 Desember mendatang. Berdasarkan data CME Group, pelaku pasar memperkirakan hampir 85 persen kemungkinan Federal Reserve menurunkan suku bunga acuannya, naik signifikan dibandingkan sepekan sebelumnya.
Serangkaian data ekonomi menjadi pemicunya. Penjualan ritel AS pada September tercatat lebih rendah dari perkiraan ekonom, sementara kepercayaan konsumen turun lebih tajam dibandingkan ekspektasi. Di sisi lain, data inflasi produsen menunjukkan peningkatan tipis, namun indikator inti yang lebih diperhatikan pasar bergerak sedikit lebih baik.
Sejumlah ekonom menilai kondisi tersebut meningkatkan peluang The Fed melanjutkan pelonggaran moneter. Kepala Ekonom Annex Wealth Management, Brian Jacobsen, menyebut bahwa penundaan pemangkasan suku bunga justru berpotensi menekan sentimen pasar, serta menyinggung bahwa Ketua The Fed Jerome Powell tidak perlu dianggap sebagai pihak yang “mengganggu” momentum akhir tahun.
Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury bertenor 10 tahun turun menjadi 4,00 persen dari posisi sebelumnya di 4,04 persen. Penurunan yield tersebut memberikan dorongan tambahan pada saham-saham berkapitalisasi kecil, terlihat dari kenaikan Russell 2000 yang naik 1,9 persen—menjadi yang terkuat di antara indeks utama AS.
Sentimen positif dari Amerika Serikat turut mendorong kenaikan indeks di berbagai pasar Eropa dan Asia, yang secara umum bergerak lebih tinggi pada perdagangan Selasa. (ris)


as a preferred source on Google



