Surabaya (beritajatim.id) – Fenomena tactical vest kembali jadi perbincangan hangat setelah penampilan Verrell Bramasta saat mengunjungi korban bencana di Sumatera mencuri perhatian publik.
Bukan aksinya yang disorot, melainkan gaya busana yang ia pilih. Dalam unggahan di media sosial, anggota DPR sekaligus aktor tersebut terlihat mengenakan vest loreng lengkap dengan label namanya yang oleh sebagian warganet sempat disangka sebagai rompi antipeluru.
Sorotan ini memunculkan rasa penasaran: apa sebenarnya fungsi tactical vest dan apakah wajar digunakan dalam aktivitas lapangan seperti yang dilakukan Verrell? Menjawab respons publik, Verrell menegaskan bahwa rompi yang ia kenakan bukan pelindung balistik, tetapi tactical vest yang umumnya dipakai untuk membawa berbagai perlengkapan penting di lapangan.
Menariknya, tactical vest bukanlah tren baru. Akar penggunaannya dapat ditelusuri hingga era Perang Vietnam, saat tentara Amerika membutuhkan solusi praktis untuk menyimpan amunisi, peta, hingga peralatan darurat. Inovasi material nilon balistik dan sistem modular MOLLE pada 1990-an membuat jenis rompi ini semakin efisien, fleksibel, dan mudah disesuaikan kebutuhan. Prinsip utamanya sederhana: perlengkapan harus mudah dijangkau tanpa menghambat pergerakan.
Seiring perkembangan budaya pop, tactical vest akhirnya menyeberang dari perlengkapan militer menjadi bagian dari fashion modern. Film aksi, gim bertema militer, hingga musisi hip-hop ikut mempopulerkan rompi ini sebagai simbol gaya yang kuat dan maskulin. Dunia mode pun menangkap peluang tersebut—brand kelas atas seperti Prada, Louis Vuitton, hingga berbagai lini streetwear mulai menghadirkan tactical vest sebagai statement piece yang memadukan utilitas dan estetika.
Meski begitu, penggunaan tactical vest di luar konteks tugas lapangan tidak lepas dari perdebatan. Majalah Vogue bahkan pernah menyebut tren ini sebagai bagian dari gaya “war-core”, yakni fashion yang meminjam estetika militer. Beberapa pengamat mode menilai bahwa penggunaannya dalam situasi yang tidak membutuhkan fungsi asli rompi dapat menimbulkan kesan ironis atau berlebihan.
Pada akhirnya, muncul pertanyaan: tactical vest yang dipakai Verrell Bramasta lebih mengutamakan fungsi atau sekadar gaya? Jawabannya kembali pada konteks penggunaan, namun yang pasti, tren tactical vest kini telah berkembang jauh dari pangkal sejarahnya dan menjadi bagian dari budaya visual modern. (aga)


as a preferred source on Google




