Garut (beritajatim.id) – Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memodernisasi industri kulit Garut agar mampu bersaing di tingkat global. Upaya ini difokuskan pada penguatan teknologi pengolahan limbah serta dukungan pembiayaan melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi, guna menjaga kualitas industri kulit Garut tetap setara dengan standar internasional, termasuk Italia.
Menteri Koperasi dan UKM Ferry Juliantono menyampaikan bahwa intervensi pemerintah menjadi penting seiring berkembangnya sentra UMKM Piazza Firenze di Garut. Kawasan tersebut dinilai berhasil mengangkat citra produk kulit lokal ke level premium, namun masih menghadapi persoalan klasik industri penyamakan, yakni pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Koperasi mendorong pengadaan mesin pengolahan limbah sekaligus modernisasi peralatan penyamakan kulit. Langkah ini diharapkan dapat dilakukan melalui peran aktif koperasi dengan dukungan pembiayaan dana bergulir dari LPDB, sehingga transformasi industri dapat berjalan berkelanjutan tanpa membebani pelaku usaha kecil.
Keberhasilan Koperasi Kulit Artisan Indonesia dalam mengembangkan Piazza Firenze menjadi salah satu alasan utama penguatan dukungan pemerintah. Kawasan yang berdiri di Sukaregang, Garut, tersebut tidak hanya menjadi pusat produksi, tetapi juga destinasi wisata belanja dengan konsep arsitektur bernuansa Italia, dilengkapi tenant kuliner, ruang workshop, dan fasilitas pelatihan bagi perajin.
Menurut Kementerian Koperasi, transformasi kawasan Sukaregang menjadi destinasi belanja premium menunjukkan bahwa koperasi mampu beradaptasi dengan tuntutan pasar modern. Model pengembangan berbasis koperasi ini dinilai efektif dalam mendorong perajin lokal naik kelas, baik dari sisi kualitas produk maupun tata kelola usaha.
Produk-produk kulit Garut yang dikembangkan melalui pendampingan Koperasi Kulit Artisan Indonesia juga mendapat pembinaan desain dari perancang ternama Poppy Dharsono. Dengan dukungan koperasi dan pemerintah daerah, standar kualitas yang dihasilkan dinilai telah memiliki daya saing di pasar global.
Di sisi lain, pengembangan pasar domestik tetap menjadi perhatian utama. Potensi pasar dalam negeri yang besar dipandang sebagai fondasi penting agar produk kulit lokal dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri, sebelum memperluas penetrasi ekspor yang memiliki tantangan tersendiri.
Melalui sinergi antara pemerintah, koperasi, desainer, dan pemerintah daerah, industri kulit Garut diarahkan tidak hanya unggul dari sisi kualitas produk, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan. Modernisasi teknologi dan penguatan pembiayaan diharapkan menjadi kunci dalam menjaga reputasi kulit Garut sebagai salah satu ikon industri kreatif nasional. (rio)


as a preferred source on Google




