Jakarta (beritajatim.id) – Pemerintah Iran menyatakan keterbukaannya untuk melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat sepanjang dialog tersebut dilandasi prinsip martabat dan saling menghormati. Pernyataan ini disampaikan di tengah meningkatnya tekanan dari Washington, termasuk ancaman tindakan militer yang kembali dilontarkan Presiden AS Donald Trump.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa Teheran tidak mencari konflik dan secara konsisten mengedepankan jalur dialog untuk menyelesaikan perbedaan. Sikap tersebut, menurut Pezeshkian, berakar pada diplomasi berbasis martabat, penghormatan terhadap hukum internasional, serta penolakan terhadap segala bentuk ancaman dan paksaan.
Namun demikian, Iran juga mengingatkan bahwa setiap bentuk agresi akan direspons secara cepat dan tegas. Pernyataan tersebut muncul seiring meningkatnya retorika keras dari Trump yang kembali menegaskan bahwa Iran menghadapi tenggat waktu untuk menerima kesepakatan baru, meski tanpa menyebutkan batas waktu yang jelas.
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mengerahkan kekuatan militer signifikan ke kawasan Timur Tengah, termasuk kapal induk Abraham Lincoln. Washington menyatakan masih mengharapkan tercapainya kesepakatan diplomatik, tetapi siap mengambil opsi lain apabila perundingan tidak membuahkan hasil.
Hingga kini, posisi kedua negara masih terpaut jauh. Pemerintah AS menuntut larangan penuh pengayaan uranium, pemindahan material nuklir Iran, pembatasan misil jarak jauh, serta pengurangan dukungan Teheran terhadap sekutu regionalnya. Tuntutan tersebut berulang kali ditolak Iran, yang menganggapnya melanggar kedaulatan nasional.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, dalam pertemuan dengan mitranya dari Türkiye di Istanbul, menyampaikan bahwa Teheran siap untuk dialog yang adil dan setara, namun tidak di bawah bayang-bayang ancaman. Ia juga menegaskan bahwa kemampuan pertahanan dan misil Iran tidak akan pernah menjadi bahan negosiasi.
Araghchi menambahkan bahwa saat ini belum ada agenda pertemuan dengan pejabat AS dan Iran mempersiapkan diri untuk dua kemungkinan, yakni perundingan atau konfrontasi.
Di tengah meningkatnya kekhawatiran akan konflik berskala luas, sejumlah negara kawasan memperkuat upaya diplomasi. Türkiye, Arab Saudi, Qatar, dan Oman dilaporkan aktif menjalin komunikasi dengan Washington dan Teheran untuk meredam eskalasi. Negara-negara tersebut memperingatkan bahwa konflik terbuka berpotensi mengguncang stabilitas Timur Tengah dan pasar energi global.
Sejumlah negara tetangga Iran juga menegaskan sikap menjauh dari potensi konflik. Azerbaijan menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah atau wilayah udaranya digunakan untuk menyerang Iran. Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, yang merupakan sekutu dekat AS, juga menyampaikan komitmen serupa.
Sementara itu, Israel meningkatkan kewaspadaan keamanan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan menggelar konsultasi keamanan tingkat tinggi untuk membahas Iran dan kemungkinan serangan AS. Media Israel menilai bahwa jika terjadi aksi militer terbatas, target utama kemungkinan adalah aset fisik Iran, termasuk fasilitas nuklir dan program misil.
Pejabat AS menyatakan bahwa Presiden Trump masih meninjau berbagai opsi dan belum mengambil keputusan akhir terkait tindakan militer. Keputusan tersebut disebut dapat diambil dalam beberapa hari ke depan, seiring selesainya pengerahan kekuatan militer AS di kawasan. (ian)


as a preferred source on Google



