Surabaya (beritajatim.id) – Seksisme di tempat kerja kerap muncul dalam bentuk komentar, candaan, hingga pembagian tugas berbasis stereotip gender. Ironisnya, perilaku tersebut sering dianggap sepele atau sekadar gurauan. Padahal, tindakan yang merendahkan perempuan maupun kelompok tertentu bisa menciptakan lingkungan kerja yang tidak kondusif.
Kondisi ini tidak hanya berdampak pada individu yang menjadi sasaran, tetapi juga memengaruhi kinerja tim secara keseluruhan. Rasa tidak nyaman, tidak aman, hingga turunnya produktivitas menjadi konsekuensi yang nyata.
Menegur kolega yang melakukan seksisme memang tidak mudah. Namun, langkah tersebut penting untuk menjaga profesionalisme serta membangun budaya kerja yang saling menghormati.
Lantas, bagaimana cara menghadapi dan menegur pelaku seksisme di kantor dengan bijak?
Sebelum menyampaikan keberatan, penting untuk memahami terlebih dahulu konteks dan dampak dari komentar atau tindakan yang dianggap seksis. Blog Surviving in Scrubs menekankan bahwa mengenali alasan mengapa suatu ucapan terasa mengganggu akan membantu seseorang merespons dengan lebih rasional.
Apakah pernyataan tersebut mengandung stereotip gender? Apakah merendahkan kompetensi berdasarkan jenis kelamin? Atau berpotensi menciptakan diskriminasi?
Dengan memahami konteksnya, teguran dapat disampaikan secara tenang dan terarah, bukan sekadar reaksi emosional sesaat.
Pilih Waktu dan Tempat yang Tepat
Menegur di depan banyak orang berisiko mempermalukan pihak lain dan memperkeruh suasana. Karena itu, percakapan sebaiknya dilakukan secara pribadi dan dalam kondisi yang kondusif.
Pendekatan personal memungkinkan dialog berlangsung lebih terbuka tanpa tekanan sosial. Selain itu, risiko munculnya sikap defensif juga bisa diminimalkan.
Gunakan Komunikasi Asertif, Bukan Menyudutkan
Menggunakan pernyataan berbasis pengalaman pribadi dapat menjadi strategi efektif. Alih-alih menuduh, sampaikan dampaknya secara langsung terhadap diri sendiri atau lingkungan kerja.
Pendekatan ini membantu menjaga percakapan tetap profesional. Komunikasi asertif juga memberi ruang bagi kolega untuk memahami dampak ucapannya tanpa merasa diserang.
Jelaskan Dampak Lebih Luas bagi Lingkungan Kerja
Komentar seksis tidak hanya berdampak pada satu individu. Dalam jangka panjang, hal tersebut bisa memperkuat stereotip dan menciptakan budaya kerja yang tidak inklusif.
Situs Rumie menyoroti pentingnya menjelaskan konteks yang lebih luas agar pelaku memahami bahwa isu ini bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan menyangkut profesionalisme dan rasa aman bersama.
Lingkungan kerja yang sehat adalah ruang di mana setiap individu dihargai berdasarkan kompetensi, bukan gender.
Hindari Asumsi dan Beri Ruang Refleksi
Tidak semua pelaku seksisme menyadari dampak dari perkataannya. Oleh karena itu, penting untuk tidak langsung berasumsi bahwa mereka memiliki niat buruk.
Menurut Evolve Therapy Group, pendekatan yang tenang dan reflektif sering kali lebih efektif dalam mendorong perubahan perilaku dibandingkan kemarahan. Mengajukan pertanyaan sederhana seperti meminta klarifikasi maksud ucapan dapat membantu membuka ruang refleksi.
Langkah ini memungkinkan diskusi berkembang tanpa memperuncing konflik.
Kelola Emosi dan Cari Dukungan
Wajar jika seseorang merasa tersinggung atau marah ketika menjadi sasaran seksisme. Namun, mengelola emosi sebelum merespons dapat membantu menjaga profesionalisme.
Budaya saling mendukung antar rekan kerja juga menjadi faktor penting. Respons kecil yang konsisten dari banyak orang mampu membentuk perubahan budaya secara bertahap.
Berani Menolak Pembagian Tugas Tidak Adil
Seksisme di tempat kerja juga dapat muncul dalam bentuk pembagian tugas yang bias gender. Misalnya, perempuan lebih sering diberi tugas administratif atau pekerjaan domestik kantor tanpa alasan profesional yang jelas.
Dalam situasi seperti ini, menolak secara tegas namun rasional merupakan langkah yang sah. Menyampaikan alasan berbasis fakta dan kompetensi membantu menjaga diskusi tetap objektif.
Eskalasi Jika Diperlukan
Jika perilaku seksisme terus berulang atau masuk kategori serius, melibatkan atasan atau divisi sumber daya manusia (HR) menjadi opsi yang perlu dipertimbangkan.
Langkah ini bukan bertujuan memperkeruh situasi, melainkan menjaga keselamatan dan kenyamanan seluruh karyawan. Setiap perusahaan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan kerja yang aman dan inklusif.
Membangun Budaya Kerja yang Saling Menghormati
Tempat kerja idealnya menjadi ruang yang profesional, aman, dan menghargai keberagaman. Namun, kesadaran kolektif tidak serta-merta menghapus praktik seksisme dalam keseharian.
Perubahan budaya dimulai dari langkah kecil berani menyuarakan keberatan, menetapkan batasan, serta membangun komunikasi yang dewasa.
Menciptakan lingkungan kerja bebas seksisme bukan hanya tanggung jawab korban, tetapi seluruh elemen organisasi. Setiap suara yang berani bersikap turut berkontribusi pada terciptanya budaya kerja yang lebih sehat dan inklusif. (aga)


as a preferred source on Google




