Jakarta (beritajatim.id) – Pemerintah Indonesia mulai menjajaki kerja sama internasional untuk memperkuat upaya konservasi kawasan Candi Prambanan, salah satu situs warisan budaya dunia yang memiliki nilai sejarah dan arsitektur penting di Asia Tenggara.
Langkah tersebut dibahas dalam pertemuan antara Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon dengan tim pemugaran dari Archaeological Survey of India (ASI) di kantor Kementerian Kebudayaan, Senayan, Jakarta, Senin (16/3/2026).
Pertemuan tersebut menjadi bagian dari penjajakan kolaborasi teknis dalam konservasi dan pemugaran kompleks Prambanan, khususnya pada candi-candi perwara yang saat ini memerlukan penanganan lanjutan.
ASI Paparkan Pengalaman Pemugaran Situs Dunia
Dalam diskusi tersebut, Janhwij Sharma menjelaskan bahwa ASI merupakan lembaga arkeologi India yang berdiri sejak 1861 dan memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan ribuan monumen bersejarah.
Selain menangani situs di India, lembaga tersebut juga aktif memberikan dukungan teknis pemugaran di berbagai negara seperti Kamboja, Laos, Vietnam, Uzbekistan, dan Mongolia.
Berdasarkan kunjungan lapangan awal di kawasan Prambanan, tim ASI menilai beberapa candi perwara memerlukan upaya konservasi tambahan. Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah metode anastylosis, yaitu teknik pemugaran yang memanfaatkan kembali batu asli yang ditemukan di lokasi situs.
Metode ini memungkinkan struktur bangunan direkonstruksi dengan menggunakan sebagian besar material asli, sementara penambahan batu baru hanya dilakukan secara terbatas untuk kebutuhan struktural.
Tantangan Pemugaran: Batu Candi Tersebar
Tim ASI juga menyoroti tantangan utama dalam proses konservasi, yakni banyaknya elemen batu arsitektur yang tersebar di area situs. Kondisi tersebut membuat proses identifikasi batu yang berasal dari masing-masing candi menjadi kompleks.
Karena itu, tahap awal konservasi diusulkan difokuskan pada dokumentasi menyeluruh terhadap struktur candi serta pengelompokan tipologi batu. Proses ini dinilai penting untuk memastikan rekonstruksi bangunan dapat dilakukan secara akurat.
Untuk menentukan metode kerja yang paling efektif, ASI juga mengusulkan pelaksanaan proyek percontohan pada satu atau dua candi perwara terlebih dahulu. Hasil proyek tersebut nantinya akan menjadi dasar bagi pemugaran skala lebih luas di kawasan Prambanan.
Konservasi Berbasis Lanskap Budaya
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyambut baik pengalaman internasional yang dimiliki ASI dalam pemugaran situs warisan dunia. Ia menekankan bahwa pelestarian Prambanan harus dilihat dalam konteks lanskap budaya yang lebih luas.
Menurutnya, kompleks Prambanan tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari jaringan situs sejarah yang mencakup Candi Sewu dan Candi Plaosan. Ketiga situs tersebut mencerminkan jejak akulturasi budaya Hindu dan Buddha di Nusantara.
Pendekatan konservasi, kata Fadli, tidak hanya berfokus pada pemulihan struktur bangunan, tetapi juga pada perlindungan ekosistem budaya di sekitarnya.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terbuka terhadap kolaborasi internasional untuk memperkuat upaya pelestarian warisan budaya, termasuk pemanfaatan teknologi modern.
Pemanfaatan Teknologi dan AI
Dalam kesempatan tersebut, Fadli Zon juga menyampaikan bahwa perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mempercepat proses konservasi candi.
Pendekatan digital, termasuk penggunaan kecerdasan buatan, dinilai berpotensi membantu proses identifikasi serta penyusunan kembali komponen batu candi yang tersebar di area situs.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi rekonstruksi sekaligus mempercepat tahapan pemugaran yang selama ini memerlukan waktu panjang.
Perkuat Diplomasi Budaya Indonesia–India
Pertemuan ini turut dihadiri Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty, Deputy Chief of Mission Bijay Selvaraj, serta Surveyor ASI Ganesh Singh.
Sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan juga hadir mendampingi Menteri, di antaranya Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta beberapa staf ahli kementerian.
Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam membangun kolaborasi strategis antara Indonesia dan India dalam pelestarian situs warisan dunia di kawasan Prambanan. Selain memperkuat konservasi cagar budaya, kerja sama tersebut juga dinilai dapat mempererat hubungan budaya kedua negara yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban Asia. (hdl)


as a preferred source on Google




