Surabaya (beritajatim.id) – Angin segar seolah kembali berembus di pasar komoditas global. Setelah babak belur mengalami koreksi tajam hingga 15 persen selama sembilan hari berturut-turut, harga emas dunia terpantau kembali terbang. Namun, di balik kilau kebangkitan tersebut, para analis justru mencium aroma bahaya yang makin pekat bagi para investor yang terlampau reaktif melakukan aksi beli.
Berdasarkan data Refinitiv pada Rabu (25/3/2026) pagi WIB, harga sang logam mulia merangkak naik 0,69 persen menyentuh level US$ 4.504,49 per troy ons. Secara kasat mata, lompatan ini dipicu oleh secercah harapan dari titik panas geopolitik Timur Tengah. Klaim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai adanya kemajuan negosiasi 15 poin untuk mengakhiri konflik dengan Iran menjadi katalis utama pendorong harga.
Meski demikian, euforia sesaat ini dinilai sangat rapuh dan berpotensi menjadi jebakan (bull trap). Pasalnya, fondasi kenaikan ini bertumpu pada klaim sepihak. Pihak Teheran hingga detik ini masih membantah keras adanya perundingan damai dengan Washington.
Titik bahayanya terletak pada skenario terburuk geopolitik. Jika diplomasi ini terbukti hanya ilusi dan konflik di Selat Hormuz terus memanas, krisis rantai pasok energi global tidak akan terhindarkan. Lonjakan harga minyak dunia otomatis akan memantik kembali badai inflasi. Dalam kondisi ini, bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dipastikan enggan melonggarkan kebijakan moneter.
Suku bunga yang ditahan pada level tinggi adalah musuh alami emas. Mengingat emas tidak memberikan imbal hasil (yield), statusnya sebagai aset safe haven akan kalah menarik dibandingkan instrumen lindung nilai lain seperti obligasi pemerintah AS.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, memperingatkan bahwa emas diproyeksikan masih berada di bawah tekanan berat sepanjang kuartal kedua tahun ini. Ayunan harga yang sangat ekstrem membuktikan bahwa pasar sedang kehilangan rasionalitasnya.
Oleh karena itu, pelaku pasar diimbau untuk tidak gegabah tergiur oleh pantulan harga jangka pendek ini. Ketidakpastian geopolitik dan bayang-bayang kebijakan The Fed membuat posisi emas saat ini sangat berisiko tinggi bagi portofolio investasi tanpa perhitungan matang.


as a preferred source on Google




