Jakarta (beritajatim.id) – Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, menyampaikan dukungannya terhadap keberhasilan diplomasi Pakistan dalam mendorong kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kesepakatan tersebut dinilai memiliki dampak strategis dalam meredam eskalasi konflik global yang berpotensi memicu krisis lebih luas.
Menurut Hidayat, keberhasilan awal tersebut tidak hanya berpotensi mencegah konflik berskala besar, tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi global serta memastikan kelangsungan ibadah haji dengan aman bagi jutaan jemaah, termasuk dari Indonesia. Inisiatif Pakistan tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai pihak internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Organisasi Kerja Sama Islam, dan Uni Eropa.
Namun demikian, Hidayat menilai gencatan senjata tersebut perlu diperluas cakupannya agar mampu menghadirkan perdamaian yang lebih komprehensif di kawasan Timur Tengah. Ia mengusulkan agar dalam perundingan lanjutan di Islamabad pada 10 April 2026, agenda tidak hanya terbatas pada hubungan AS-Iran dan Lebanon, tetapi juga mencakup penghentian konflik di wilayah Teluk serta Palestina.
Menurutnya, konflik yang masih berlangsung di Gaza, Tepi Barat, dan penutupan Masjid Al Aqsha menjadi isu krusial yang tidak boleh diabaikan dalam proses diplomasi. Tanpa penyelesaian terhadap konflik tersebut, upaya menciptakan stabilitas kawasan dinilai belum akan optimal.
Hidayat juga menyoroti pentingnya keterlibatan negara-negara kawasan seperti Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Oman yang terdampak langsung oleh ketegangan geopolitik. Ia menilai aspirasi negara-negara tersebut perlu diakomodasi dalam perundingan agar hasil yang dicapai lebih inklusif dan berkelanjutan.
Selain itu, ia mendorong Pemerintah Indonesia untuk mengambil peran aktif dalam mendukung proses perdamaian. Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia serta memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan berbagai pihak terkait.
Presiden Prabowo Subianto dinilai memiliki peluang untuk menjembatani komunikasi dengan Presiden AS Donald Trump, sementara hubungan baik Indonesia dengan Iran juga dapat dimanfaatkan untuk memperkuat diplomasi.
Lebih jauh, Hidayat menilai bahwa gencatan senjata yang sedang diupayakan sebaiknya tidak bersifat sementara, melainkan diarahkan menjadi kesepakatan permanen, setidaknya hingga berakhirnya musim haji 2026. Hal ini penting untuk memastikan stabilitas keamanan di kawasan serta menghindari dampak lanjutan terhadap ekonomi global.
Dalam pandangannya, dinamika konflik di Timur Tengah juga tidak terlepas dari kebijakan pemerintah Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ia menilai masih adanya tindakan militer di Palestina dan Lebanon menjadi tantangan serius bagi terciptanya perdamaian menyeluruh.
Dengan situasi geopolitik yang masih dinamis, Hidayat berharap proses negosiasi lanjutan di Pakistan dapat menghasilkan kesepakatan yang lebih luas dan permanen. Ia menekankan bahwa perdamaian di Timur Tengah bukan hanya kepentingan kawasan, tetapi juga menjadi bagian penting dari stabilitas global yang berdampak langsung pada berbagai sektor kehidupan, termasuk ekonomi dan kemanusiaan. (ian)


as a preferred source on Google




