Pontianak (beritajatim.id) – Sebanyak 63 pendonor darah yang telah mencapai lebih dari 100 kali donor menerima penghargaan dari Palang Merah Indonesia Kota Pontianak. Penghargaan berupa pin emas tersebut diberikan sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi panjang mereka dalam aksi kemanusiaan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Penghargaan itu diserahkan dalam kegiatan yang digelar di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak pada Senin (13/4/2026). Para penerima dinilai sebagai simbol konsistensi dan kepedulian sosial, mengingat untuk mencapai 100 kali donor dibutuhkan komitmen menjaga kesehatan selama 25 hingga 30 tahun.
Salah satu penerima penghargaan, Zulfydar Zaidar, membagikan kisah awal perjalanannya sebagai pendonor. Ia mulai mendonorkan darah saat masih menjadi mahasiswa di Jakarta pada 1990-an, dipicu oleh kebutuhan mendesak seorang pasien yang membutuhkan transfusi darah.
Dalam kondisi ekonomi yang terbatas kala itu, ia tetap memilih membantu sesama melalui donor darah. Baginya, kontribusi tidak selalu harus dalam bentuk materi. Seiring waktu, aktivitas donor menjadi bagian dari nilai hidupnya, bukan hanya untuk membantu orang lain, tetapi juga sebagai bentuk keberlanjutan kebaikan yang dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.
Cerita tersebut sejalan dengan pandangan Wali Kota Pontianak yang juga menjabat sebagai Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Ia menilai para pendonor sebagai pahlawan kemanusiaan karena kontribusi mereka berdampak langsung pada penyelamatan nyawa.
Secara akumulatif, satu orang yang telah mendonorkan darah sebanyak 100 kali diperkirakan telah menyumbang sekitar 30 liter darah. Jumlah tersebut berpotensi membantu hingga ratusan pasien, baik dalam kondisi darurat, operasi, maupun penanganan medis lainnya.
Di sisi lain, kebutuhan darah di Kota Pontianak masih tergolong tinggi. Rata-rata kebutuhan harian mencapai 100 hingga 150 kantong darah, sementara ketersediaan rutin berkisar antara 70 hingga 100 kantong per hari. Data tahun 2025 mencatat jumlah pendonor mencapai lebih dari 21 ribu orang, dengan mayoritas merupakan pendonor sukarela.
Untuk mengatasi kekurangan stok, PMI selama ini mengandalkan jaringan pendonor yang telah terdata, termasuk relawan dan keluarga pasien dalam kondisi mendesak. Namun demikian, berbagai keterbatasan masih dihadapi, baik dari sisi teknis maupun fasilitas pelayanan.
Salah satu upaya yang tengah didorong adalah pembangunan laboratorium terpisah guna memenuhi standar akreditasi nasional. Fasilitas tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas layanan donor darah di masa mendatang.
Pemerintah Kota Pontianak bersama PMI juga terus berupaya memperkuat infrastruktur dan sistem pelayanan agar kebutuhan darah masyarakat dapat terpenuhi secara optimal. Di tengah tantangan tersebut, peran pendonor tetap menjadi elemen kunci dalam menjaga ketersediaan stok darah.
Penghargaan pin emas yang diberikan kepada para pendonor 100 kali bukan sekadar simbol, melainkan representasi rasa terima kasih dari masyarakat yang telah terbantu. Setiap tetes darah yang didonasikan menjadi bagian penting dalam menyelamatkan kehidupan, sekaligus memperkuat semangat solidaritas kemanusiaan yang berkelanjutan. (hdl)


as a preferred source on Google




