Jakarta (beritajatim.com) – Upaya mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045 masih dihadapkan pada tantangan serius berupa tingginya angka malnutrisi anak.
Penelitian terbaru yang dipresentasikan dalam forum internasional menunjukkan bahwa intervensi nutrisi padat gizi atau Nutrient-Dense Formula (NDF) berpotensi menjadi strategi efektif untuk menekan kasus stunting, wasting, dan underweight sekaligus menghemat biaya kesehatan hingga triliunan rupiah.
Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Jawa Timur masih berada di angka 14,7 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masalah gizi anak masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah, tenaga kesehatan, dunia usaha, dan masyarakat guna memastikan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Selain menghambat pertumbuhan fisik, masalah gizi seperti stunting, wasting atau berat badan rendah dibanding tinggi badan, serta underweight atau berat badan rendah dibanding usia, juga meningkatkan risiko anak mengalami berbagai penyakit infeksi yang berdampak pada kualitas hidup dan beban ekonomi keluarga.
Associate Professor Muh. Akbar Bahar, Ph.D., Ketua Pharmacoepidemiology Research Group (PharmaEpid-RG) Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, memaparkan hasil penelitian berjudul A Nutrient-Dense Formula in Undernourished Children in Indonesia: A Cost-Effective Strategy pada ajang International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) Europe 2025 di Glasgow, Skotlandia.
Menurut Akbar, penelitian tersebut mengevaluasi dampak kesehatan dan ekonomi dari pemberian Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atau Nutrient-Dense Formula kepada anak-anak Indonesia yang mengalami masalah gizi.
“Penelitian ini mengevaluasi dampak kesehatan dan ekonomi dari pemberian PKMK atau NDF kepada anak-anak Indonesia yang mengalami masalah gizi. Hasil analisis menunjukkan bahwa intervensi nutrisi tersebut berpotensi menurunkan prevalensi stunting sebesar 34,5 persen, wasting sebesar 72,7 persen, dan underweight sebesar 51,7 persen. Jika diterapkan secara luas, dampaknya diperkirakan dapat mencegah sekitar 1,6 juta kasus stunting, 1,2 juta kasus wasting, dan 1,9 juta kasus underweight pada anak Indonesia,” jelas Muh. Akbar Bahar.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa perbaikan status gizi berdampak langsung terhadap penurunan risiko penyakit infeksi yang selama ini banyak dialami anak dengan gizi kurang.
Model analisis yang dikembangkan memperkirakan penurunan kasus tuberkulosis (TB) hingga 47,2 persen dan pneumonia sebesar 44,7 persen. Jika diterapkan secara luas, intervensi tersebut berpotensi mencegah sekitar 1,2 juta kasus TB dan satu juta kasus pneumonia pada anak-anak Indonesia.
Selain itu, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan diare diperkirakan dapat berkurang masing-masing hingga 2,6 juta dan dua juta kasus.
Menurut Akbar, temuan tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan nutrisi seharusnya tidak dipandang sekadar sebagai program bantuan pangan, melainkan investasi jangka panjang di bidang kesehatan masyarakat.
“Ketika seorang anak mendapatkan nutrisi yang memadai, manfaat yang dihasilkan jauh melampaui peningkatan berat badan atau tinggi badan. Risiko infeksi menurun, kebutuhan berobat berkurang, dan kualitas hidup anak menjadi lebih baik. Karena itu, intervensi nutrisi perlu dipandang sebagai investasi kesehatan masyarakat yang menghasilkan manfaat kesehatan dan ekonomi secara bersamaan,” ujarnya.
Dari sisi ekonomi, penelitian itu memperkirakan potensi penghematan biaya pengobatan yang signifikan. Pengurangan kasus penyakit diproyeksikan mampu menghemat biaya pengobatan hingga Rp2,46 triliun untuk tuberkulosis, Rp3,88 triliun untuk pneumonia, Rp2,40 triliun untuk ISPA, dan Rp3,38 triliun untuk diare.
Analisis ekonomi kesehatan juga menunjukkan bahwa intervensi tersebut memberikan manfaat kesehatan yang besar dengan biaya relatif rendah, bahkan disebut hingga tujuh kali lebih efektif dibandingkan ambang batas efektivitas biaya yang digunakan di Indonesia.
Founder dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FSRPH, menilai hasil penelitian tersebut menjadi bukti penting bahwa intervensi nutrisi yang tepat dapat memberikan manfaat kesehatan sekaligus efisiensi ekonomi dalam jangka panjang.
“Penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi nutrisi yang tepat tidak hanya berpotensi mencegah memburuknya dampak kesehatan akibat malnutrisi, tetapi juga dapat mengurangi kebutuhan biaya pengobatan di masa depan. Bukti seperti ini penting untuk mendukung pengambilan kebijakan yang lebih berbasis data dan berorientasi pada manfaat jangka panjang bagi anak-anak Indonesia,” ujar dr. Ray.
Ia menambahkan bahwa penggunaan PKMK untuk anak dengan masalah gizi harus tetap mengikuti ketentuan yang berlaku dan dilakukan berdasarkan rekomendasi tenaga medis agar sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Ray juga menyoroti pentingnya inovasi produk nutrisi yang diproduksi di dalam negeri untuk mendukung program perbaikan gizi nasional. Menurutnya, keberadaan produk PKMK lokal dapat menjadi salah satu solusi dalam memperluas akses intervensi nutrisi bagi anak-anak yang berisiko mengalami gagal tumbuh, gizi kurang, maupun gizi buruk.
Momentum peringatan Hari Lahir Pancasila pada 1 Juni, lanjutnya, menjadi pengingat penting bahwa pemenuhan hak gizi anak merupakan bagian dari upaya mewujudkan keadilan sosial dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Pemenuhan gizi yang optimal merupakan fondasi untuk mencetak generasi penerus bangsa yang cerdas, sehat, dan mampu bersaing menyongsong Indonesia Emas. Oleh karena itu, hadirnya inovasi solusi nutrisi PKMK diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam pemenuhan gizi anak Indonesia untuk mewujudkan Generasi Emas 2045 bebas stunting,” tutup dr. Ray.
Temuan penelitian ini menambah bukti bahwa investasi pada pemenuhan gizi anak tidak hanya berdampak pada kesehatan individu, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia dan efisiensi pembiayaan kesehatan nasional. Ke depan, sinergi antara pemerintah, akademisi, tenaga kesehatan, dan sektor industri dinilai menjadi kunci untuk mempercepat penurunan angka stunting dan malnutrisi di Indonesia. (ted)







