Surabaya (beritajatim.id) – Tren menikah sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) belakangan ramai dibagikan pasangan muda di media sosial. Banyak dari mereka memilih menggelar akad secara sederhana tanpa pesta besar demi menghemat biaya dan mengalokasikan dana untuk kehidupan setelah menikah.
Unggahan mengenai pernikahan sederhana itu pun menuai banyak respons positif. Tak sedikit warganet yang menilai inti dari pernikahan bukan terletak pada kemegahan pesta, melainkan kesiapan pasangan menjalani kehidupan rumah tangga.
Mulai dari cerita hanya menempuh perjalanan singkat menuju KUA, makan bersama setelah akad, hingga berfoto sederhana di depan tukang sayur atau kebun pisang menjadi gambaran bahwa kebahagiaan tidak selalu identik dengan pesta yang megah.
Perubahan pola pikir ini sejalan dengan hasil survei Bridestory bertajuk Tren Pernikahan di Indonesia yang menunjukkan semakin banyak pasangan memilih konsep pernikahan berskala kecil dengan jumlah tamu yang lebih terbatas.
Survei tersebut juga mengungkap mayoritas pasangan masa kini menjadi pengambil keputusan utama dalam merancang pernikahan mereka. Salah satu penyebabnya karena sebagian besar biaya pernikahan berasal dari tabungan pribadi pasangan.
Dengan biaya yang lebih efisien, dana yang tersedia dapat dialihkan untuk kebutuhan lain seperti membeli rumah, membangun usaha, atau menyiapkan dana darurat setelah menikah.
Meski tren pernikahan sederhana semakin berkembang, tidak semua pasangan memiliki kebebasan untuk memilih konsep tersebut.
Di Indonesia, pernikahan tidak hanya menyatukan dua individu, tetapi juga melibatkan dua keluarga besar beserta nilai budaya yang mereka anut.
Pada sejumlah daerah, prosesi adat masih menjadi bagian penting yang sulit dipisahkan dari pernikahan. Salah satunya tradisi uang japuik atau uang japuik/suduik dalam budaya Minangkabau yang memiliki makna penghormatan antarkeluarga.
Begitu pula pada masyarakat Jawa maupun daerah lain yang masih menjunjung tinggi pelaksanaan upacara adat lengkap sebagai bentuk penghormatan terhadap keluarga besar.
Kondisi inilah yang membuat keinginan pasangan untuk menikah sederhana terkadang harus disesuaikan dengan harapan orang tua maupun kerabat.
Fenomena tersebut juga dialami banyak pasangan muda di Indonesia.
Salah satunya diceritakan Margareta, seorang profesional di Jakarta, yang awalnya menginginkan pesta sederhana hanya bersama keluarga inti dan sahabat dekat.
Namun, rencana tersebut berubah karena keluarga menginginkan konsep pernikahan adat Jawa yang lebih besar.
Fenomena ini bukan hal yang mengherankan. Survei Bridestory menunjukkan orang tua masih memiliki kontribusi besar dalam pembiayaan pesta pernikahan.
Data tersebut mencatat sekitar 22,2 persen orang tua mempelai pria, 18,2 persen orang tua mempelai perempuan, serta 2,2 persen anggota keluarga lainnya turut membantu biaya pesta. Keterlibatan finansial tersebut sering kali diikuti dengan keinginan untuk ikut menentukan konsep pernikahan.
Psikoterapis keluarga Sam Louie menjelaskan bahwa dalam budaya Asia, orang tua memang memiliki pengaruh yang kuat terhadap keputusan penting anak-anaknya, termasuk urusan pernikahan.
Menurutnya, nilai budaya kolektif yang menjunjung tinggi hierarki, rasa hormat, dan hubungan antargenerasi membuat orang tua merasa memiliki tanggung jawab untuk memberikan arahan terhadap berbagai keputusan besar dalam kehidupan anak.
Anggapan bahwa pesta pernikahan yang mewah menjadi simbol rumah tangga yang sukses ternyata tidak selalu terbukti.
Penelitian yang dilakukan Andrew Francis dan Hugo Mialon dari Emory University pada 2014 menemukan adanya hubungan menarik antara besarnya biaya pernikahan dengan risiko perceraian.
Hasil penelitian menunjukkan pasangan yang menggelar pesta dengan biaya sangat besar justru memiliki risiko perceraian lebih tinggi dibanding pasangan yang menikah dengan anggaran lebih sederhana.
Penelitian tersebut juga menemukan pasangan yang mengeluarkan biaya pernikahan relatif rendah cenderung mengalami tingkat stres finansial yang lebih kecil setelah menikah.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa biaya pernikahan bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan rumah tangga. Komunikasi, kesiapan mental, kondisi finansial, serta kemampuan menyelesaikan konflik tetap menjadi fondasi utama dalam mempertahankan hubungan.
Tren menikah sederhana menunjukkan adanya perubahan cara pandang generasi muda terhadap makna sebuah pernikahan.
Bagi banyak pasangan, akad nikah bukan lagi tentang kemegahan pesta atau banyaknya tamu yang hadir, melainkan tentang bagaimana membangun kehidupan bersama setelah hari bahagia berlalu.
Pada akhirnya, baik memilih menikah sederhana di KUA maupun menggelar pesta besar merupakan keputusan pribadi setiap pasangan dan keluarga. Yang terpenting bukan seberapa megah perayaannya, melainkan kesiapan emosional, finansial, serta komitmen untuk menjalani kehidupan rumah tangga dalam jangka panjang. (aga)


as a preferred source on Google




