Tegal (beritajatim.id) – Mantan Menteri Perdagangan periode 2011–2014, Gita Wirjawan, menyerukan perlunya perubahan mendasar dalam cara Indonesia memandang dan memilih pemimpin. Menurutnya, bangsa ini harus mulai meninggalkan orientasi yang terlalu berfokus pada elektabilitas dan popularitas, serta beralih kepada ukuran kepemimpinan yang lebih substansial, yakni integritas, kapabilitas, dan etikabilitas.
Gagasan tersebut disampaikan Gita dalam Public Lecture Series yang digelar Universitas Harkat Negeri (UHN) Tegal dalam rangka menyambut Dies Natalis pertama kampus tersebut, Senin (22/6). Mengusung tema “What It Takes: Asia Tenggara, dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global”, kegiatan itu menghadirkan diskusi mengenai masa depan Indonesia dan posisi strategis kawasan Asia Tenggara di tengah perubahan global.
Dalam sambutan pembuka, Rektor UHN Sudirman Said menyoroti tantangan mendasar yang dihadapi Indonesia. Menurutnya, persoalan bangsa bukan terletak pada keterbatasan sumber daya atau modal pembangunan, melainkan pada keberanian untuk berpikir jauh ke depan serta kemampuan mengevaluasi kualitas kepemimpinan secara jujur dan objektif.
Sudirman juga menekankan pentingnya investasi jangka panjang di bidang pendidikan. Ia menilai Indonesia memiliki potensi besar yang seharusnya dapat melahirkan gagasan-gagasan strategis dan terobosan nyata untuk mempercepat kemajuan bangsa. Dalam pandangannya, pengalaman sejumlah negara maju di Asia menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia menjadi fondasi utama transformasi nasional.
Sejalan dengan itu, Gita Wirjawan menegaskan bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki berbagai modal strategis untuk menjadi kekuatan utama di kawasan ASEAN. Faktor geografis, jumlah penduduk yang besar, kekayaan sumber daya alam, keanekaragaman hayati, serta keberagaman sosial dan budaya menjadi aset yang tidak dimiliki banyak negara.
Namun, menurutnya, keunggulan tersebut tidak akan menghasilkan lompatan kemajuan tanpa keberanian kolektif untuk membangun bangsa yang berlandaskan moralitas, kecerdasan, etika, dan kapasitas intelektual yang kuat. Ia menilai Indonesia perlu mengembangkan narasi kebangsaan yang mampu menginspirasi sekaligus mendorong daya saing di tingkat global.
Di hadapan mahasiswa, dosen, dan berbagai unsur masyarakat yang hadir, Gita menyoroti kecenderungan politik yang terlalu menitikberatkan pada angka survei dan popularitas. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi menggeser perhatian publik dari kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya. Karena itu, ia mendorong adanya reorientasi dalam menilai calon pemimpin masa depan dengan menempatkan integritas, kemampuan, dan etika sebagai indikator utama.
Selain menyinggung soal kepemimpinan, Gita juga menyoroti pentingnya reformasi pendidikan sebagai jalan keluar dari budaya sensasionalitas yang kerap mendominasi ruang publik. Ia menilai peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara serius dan agresif, termasuk melalui perbaikan kesejahteraan guru.
Menurutnya, profesi guru perlu ditempatkan sebagai profesi yang memiliki kehormatan dan daya tarik tinggi sehingga mampu menarik generasi terbaik untuk terjun ke dunia pendidikan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Gita juga mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada isu-isu sesaat yang bersifat sensasional. Ia menekankan perlunya perspektif pembangunan jangka panjang yang berorientasi pada kualitas manusia, inovasi, dan daya saing bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, perhatian khusus juga diberikan kepada generasi muda. Gita menilai anak muda Indonesia harus memiliki keberanian berpikir melampaui batas-batas konvensional serta aktif menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan global. Mereka tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus mampu menciptakan inovasi dan nilai tambah yang berdampak luas.
Kuliah umum yang berlangsung di Kampus UHN Tegal itu menjadi ruang dialog antara pemikiran global dan realitas lokal. Semangat “think globally, act locally” menjadi pesan utama yang disampaikan kepada peserta agar mampu membaca perubahan dunia sekaligus menerjemahkannya dalam tindakan nyata di daerah masing-masing.
Acara berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dari mahasiswa terkait peluang karier global, perkembangan ekonomi digital, hingga tantangan kompetisi internasional. Kegiatan tersebut turut dihadiri kalangan akademisi, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat umum. Pada kesempatan yang sama, UHN juga menandatangani kerja sama dengan School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi di bidang pendidikan dan pengembangan kepemimpinan. (hdl)


as a preferred source on Google




