Teheran (beritajatim.id) – Prosesi pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, berkembang menjadi lebih dari sekadar agenda penghormatan kenegaraan. Kehadiran jutaan pelayat serta delegasi dari berbagai negara dinilai menjadi indikator awal arah hubungan diplomatik Iran setelah periode konflik berkepanjangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Rangkaian upacara pemakaman dimulai di Grand Mosalla, Teheran, pada Jumat (3/7), dengan peti jenazah disemayamkan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat menyampaikan penghormatan terakhir. Pemerintah Iran kemudian menjadwalkan prosesi berlanjut menuju sejumlah kota suci, termasuk Qom dan Mashhad, serta beberapa lokasi simbolis di kawasan suci Syiah di Irak.
Pemerintah Iran menyebut prosesi tersebut sebagai salah satu pemakaman kenegaraan terbesar dalam sejarah modern negara itu. Besarnya partisipasi masyarakat dipandang sebagai upaya menunjukkan stabilitas politik domestik di tengah transisi kepemimpinan nasional.
Ali Khamenei, yang memimpin Republik Islam Iran selama lebih dari tiga dekade, dilaporkan meninggal dunia pada 28 Februari dalam serangan udara yang terjadi di tengah eskalasi konflik kawasan. Setelah itu, Iran menjalankan mekanisme suksesi konstitusional dan Mojtaba Khamenei ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi pada Maret 2026, meski hingga kini aktivitas publiknya masih relatif terbatas.
Prosesi pemakaman juga menjadi panggung diplomasi yang memperlihatkan posisi sejumlah negara terhadap Iran pascakonflik. Delegasi dari China, Rusia, Turki, Pakistan, Tajikistan, Armenia, Georgia, serta beberapa negara Teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Oman menghadiri sebagian rangkaian acara. Sebaliknya, sebagian besar negara Barat tidak mengirimkan perwakilan tingkat tinggi, mencerminkan masih kuatnya perbedaan sikap politik terhadap Teheran.
Pengamat hubungan internasional dari Center for Strategic Studies, Northwest University, China, Wang Jin, menilai besarnya partisipasi masyarakat menunjukkan bahwa Iran masih memiliki tingkat kohesi internal yang kuat melalui jaringan politik dan keagamaan. Menurutnya, kehadiran sejumlah negara non-Barat juga memperlihatkan bahwa upaya isolasi diplomatik terhadap Iran belum sepenuhnya berhasil.
Wang menilai Iran masih mampu mempertahankan hubungan dengan berbagai negara melalui tatanan dunia yang semakin multipolar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerja sama internasional tidak lagi sepenuhnya bergantung pada poros negara-negara Barat.
Di tingkat regional, pemakaman ini berlangsung di tengah perubahan lanskap diplomasi Timur Tengah. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara Teluk mulai membangun hubungan yang lebih konstruktif dengan Iran, termasuk melalui normalisasi hubungan Iran dan Arab Saudi yang dimediasi China pada 2023.
Salah satu perhatian utama dalam prosesi tersebut adalah kehadiran Wakil Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Waleed Al-Khuraiji. Kehadiran pejabat tinggi dari Riyadh dinilai sejumlah analis sebagai sinyal bahwa proses rekonsiliasi kedua negara tetap berjalan meskipun kawasan baru saja mengalami eskalasi militer.
Menurut Wang Jin, dinamika tersebut mencerminkan perubahan pendekatan diplomasi di Timur Tengah. Negara-negara di kawasan kini lebih mengedepankan stabilitas, dialog, dan keseimbangan hubungan luar negeri dibandingkan memilih berpihak secara eksklusif kepada satu kekuatan global.
Perkembangan tersebut juga dinilai berlangsung seiring dengan semakin beragamnya pola kemitraan internasional negara-negara Timur Tengah serta berkurangnya dominasi pengaruh sepihak Amerika Serikat di kawasan.
Di sisi lain, prosesi pemakaman memiliki arti penting bagi politik domestik Iran. Momentum tersebut dimanfaatkan untuk menunjukkan kesinambungan kepemimpinan negara sekaligus memperlihatkan soliditas lembaga keagamaan Syiah dan jaringan politik yang selama ini menjadi fondasi Republik Islam Iran.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai masih terdapat tantangan besar yang akan dihadapi pemerintahan baru Iran, terutama dalam memperluas hubungan diplomatik dengan komunitas internasional dan menentukan posisi strategis negara tersebut di tengah perubahan konstelasi geopolitik Timur Tengah yang semakin dinamis. (hdl)


as a preferred source on Google




