Jakarta (beritajatim.id) – Gelombang panas ekstrem terus melanda sebagian besar wilayah Eropa dan diperkirakan memengaruhi hampir 200 juta penduduk yang menghadapi suhu di atas 35 derajat Celsius. Kondisi cuaca yang bergerak ke kawasan Eropa Timur itu telah memicu peningkatan angka kematian, membebani layanan kesehatan, serta memecahkan rekor suhu di sejumlah negara.
Meski beberapa wilayah di Eropa Barat diperkirakan mulai mengalami penurunan suhu, badan meteorologi di sejumlah negara memperingatkan bahwa kondisi terburuk justru akan terjadi di kawasan timur benua tersebut dalam beberapa hari ke depan. Peringatan cuaca tingkat tertinggi telah dikeluarkan di sejumlah negara sebagai antisipasi terhadap risiko kesehatan dan kebakaran.
Di Prancis, Menteri Kesehatan Stephanie Rist mengonfirmasi gelombang panas telah menyebabkan jumlah kematian yang lebih tinggi dibandingkan kondisi normal. Sementara itu, pemerintah Spanyol sebelumnya melaporkan sedikitnya 212 kematian dalam periode empat hari yang diduga berkaitan dengan cuaca ekstrem.
Tekanan terhadap sistem layanan kesehatan juga terus meningkat. Rumah sakit di Paris melaporkan kunjungan ke unit gawat darurat melonjak sekitar 36 persen pada Jumat dan Sabtu. Di Austria, layanan medis darurat di Wina mencatat peningkatan beban kerja sekitar 15 persen sehingga otoritas setempat menambah personel untuk mengantisipasi lonjakan pasien.
Jerman menjadi salah satu negara yang mengalami kondisi paling ekstrem. Layanan Cuaca Jerman (DWD) menetapkan status siaga merah di sebagian besar wilayah dan mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut, yakni mencapai 41,5 derajat Celsius di wilayah timur.
Rekor suhu juga tercatat di sejumlah negara lain. Denmark membukukan suhu tertinggi sepanjang sejarah setelah temperatur mencapai 37 derajat Celsius di dua lokasi dekat Aarhus. Republik Ceko mencatat suhu 40,8 derajat Celsius di wilayah utara Praha dan memperkirakan suhu masih berpotensi mendekati bahkan melampaui 41 derajat Celsius.
Swiss pun kembali mencatat rekor hari terpanas pada bulan Juni untuk hari ketiga berturut-turut. Suhu udara di Kota Basel mencapai 39 derajat Celsius, memperkuat tren cuaca ekstrem yang melanda kawasan Eropa Tengah.
Di Prancis, kondisi diperkirakan mulai membaik secara bertahap. Jumlah wilayah dengan status peringatan merah akan berkurang dari 37 menjadi 24 departemen. Namun, penurunan suhu disertai munculnya badai petir yang memicu gangguan transportasi udara.
Data pelacakan penerbangan menunjukkan lebih dari 800 penerbangan dari Bandara Heathrow dan Gatwick di London mengalami penundaan, sementara puluhan penerbangan lainnya dibatalkan akibat cuaca buruk yang menyertai perubahan kondisi atmosfer.
Sementara itu, negara-negara di Eropa Timur justru bersiap menghadapi puncak gelombang panas. Rumania mengeluarkan peringatan merah yang berlaku mulai Senin hingga Rabu untuk hampir seluruh wilayah negara. Slovakia menerapkan langkah serupa, sedangkan Republik Ceko, Hungaria, Moldova, dan sejumlah negara Balkan juga menetapkan status siaga tertinggi.
Meski suhu ekstrem memaksa sejumlah kegiatan publik dibatalkan, sebagian aktivitas masyarakat masih tetap berlangsung. Di Jerman, misalnya, penyelenggaraan konser terbuka Berlin Philharmonic tetap dilaksanakan dengan penyesuaian aturan berpakaian bagi para penampil. Sebaliknya, sejumlah agenda olahraga seperti Hamburg Half Marathon terpaksa dibatalkan demi keselamatan peserta.
Para ilmuwan menilai gelombang panas yang semakin sering terjadi merupakan salah satu indikator nyata perubahan iklim global akibat meningkatnya emisi gas rumah kaca dari penggunaan bahan bakar fosil. Berdasarkan berbagai penelitian, fenomena tersebut diperkirakan akan menjadi lebih sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang semakin tinggi pada masa mendatang.
Pakar meteorologi menjelaskan cuaca ekstrem kali ini dipicu oleh fenomena heat dome, yakni massa udara panas dari Afrika Utara yang terperangkap di atmosfer sehingga menghambat sirkulasi udara dan menyebabkan suhu terus meningkat. Meski fenomena tersebut bukan hal baru, intensitas suhu yang tercatat tahun ini berada pada level yang belum pernah terjadi sebelumnya di sejumlah negara Eropa.
Gelombang panas 2026 kembali menjadi pengingat bahwa perubahan iklim tidak lagi sekadar ancaman jangka panjang, tetapi telah memberikan dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, ketahanan infrastruktur, transportasi, hingga aktivitas ekonomi di berbagai negara. Pemerintah di kawasan Eropa pun terus mengimbau masyarakat membatasi aktivitas luar ruang, menjaga kecukupan cairan tubuh, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko penyakit akibat suhu ekstrem. (hdl)


as a preferred source on Google




