Jakarta (beritajatim.id) – Ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali meningkat tajam setelah munculnya ultimatum baru dari Donald Trump yang memberi waktu 48 jam kepada Teheran untuk mencapai kesepakatan atau membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut memicu respons keras dari pihak Iran. Juru bicara komando militer tertinggi Iran, Ebrahim Zolfaghari, memperingatkan bahwa eskalasi konflik akan berdampak luas dan menjadikan kawasan Timur Tengah sebagai “neraka” bagi pihak-pihak yang dianggap sebagai lawan.
Situasi ini berkembang di tengah konflik bersenjata yang telah berlangsung selama enam pekan sejak serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari. Konflik tersebut dilaporkan telah menewaskan ribuan orang serta mengganggu stabilitas pasokan energi global, mengingat kawasan Teluk merupakan jalur vital distribusi minyak dunia.
Ultimatum terbaru Trump disampaikan melalui media sosial, mempertegas tekanan terhadap Iran setelah sebelumnya beberapa kali memperpanjang tenggat waktu. Sikap Washington terlihat berfluktuasi antara pendekatan militer dan diplomasi, menciptakan ketidakpastian dalam arah penyelesaian konflik.
Di sisi lain, Israel menunjukkan kesiapan meningkatkan operasi militer. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengonfirmasi rencana serangan terhadap fasilitas energi Iran, termasuk infrastruktur yang diduga berkaitan dengan produksi bahan peledak dan rudal. Seorang pejabat pertahanan Israel menyebut bahwa operasi tersebut menunggu persetujuan Amerika Serikat dan dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Pemerintah Iran tetap membuka peluang diplomasi, namun dengan syarat penghentian permanen konflik. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa setiap kesepakatan harus bersifat final dan mengakhiri apa yang disebut Teheran sebagai perang ilegal.
Kekhawatiran internasional semakin meningkat setelah serangan dilaporkan terjadi di dekat fasilitas nuklir Bushehr. Dalam surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, Iran memperingatkan potensi risiko radiasi yang dapat berdampak luas. International Atomic Energy Agency melalui Direktur Jenderalnya, Rafael Grossi, menyerukan penahanan diri maksimal guna mencegah kecelakaan nuklir.
Meski sebuah proyektil dilaporkan menghantam area sekitar fasilitas tersebut dan menyebabkan korban jiwa, otoritas internasional menyatakan tidak ditemukan peningkatan radiasi sejauh ini.
Di lapangan, situasi militer terus berkembang. Pasukan Amerika Serikat dan Iran masih melakukan pencarian terhadap awak pesawat tempur F-15E yang jatuh, sementara laporan menyebut operasi penyelamatan sempat mendapat tembakan dari pihak Iran. Insiden lain juga terjadi dengan jatuhnya pesawat A-10 Warthog di wilayah Kuwait.
Serangan juga meluas ke sektor energi. Fasilitas petrokimia di Provinsi Khuzestan, termasuk kawasan Mahshahr dan Bandar Imam, menjadi target serangan yang menewaskan sedikitnya lima orang dan melukai sekitar 170 lainnya. Kebakaran yang sempat terjadi di beberapa lokasi berhasil dikendalikan.
Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal ke sejumlah wilayah di Teluk, Irak, dan Israel, serta menyerang kapal yang dikaitkan dengan Israel di Selat Hormuz. Di saat bersamaan, kelompok Houthi di Yaman mengklaim melakukan operasi gabungan dengan Iran dan Hezbollah yang menargetkan fasilitas Israel, termasuk Bandara Ben Gurion di Tel Aviv, meski belum ada konfirmasi kerusakan dari pihak Israel.
Konflik yang terus meluas ini meningkatkan kekhawatiran akan dampak global, terutama terhadap stabilitas energi dan keamanan kawasan. Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia, menjadi titik krusial yang berpotensi memicu krisis energi jika terganggu.
Dengan eskalasi yang semakin intens dan retorika yang kian tajam dari semua pihak, komunitas internasional menghadapi tekanan besar untuk mendorong deeskalasi sebelum konflik berkembang menjadi perang regional berskala penuh. (hdl)


as a preferred source on Google




