Beijing (beritajatim.id) – Presiden China Xi Jinping menegaskan bahwa penguatan kemandirian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi fondasi utama dalam mendorong modernisasi nasional. Dalam pidatonya pada pertemuan nasional yang mempertemukan ilmuwan, akademisi, dan komunitas sains China, Xi menekankan pentingnya mempercepat inovasi teknologi sekaligus membangun ekosistem talenta yang mampu menjawab tantangan masa depan.
Pidato tersebut disampaikan dalam forum yang menggabungkan Konferensi Penghargaan Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, sidang umum anggota Chinese Academy of Sciences (CAS), Chinese Academy of Engineering (CAE), serta Kongres Nasional ke-11 China Association for Science and Technology.
Xi menjelaskan bahwa pembangunan China sebagai negara dengan kekuatan sains dan teknologi dunia memerlukan dua fondasi utama, yakni pengembangan sumber daya manusia berkualitas dan peningkatan kemampuan inovasi yang mandiri. Menurutnya, kedua aspek tersebut akan menjadi penentu daya saing China di tengah persaingan teknologi global yang semakin ketat.
Dalam kesempatan itu, Xi memberikan perhatian besar terhadap regenerasi ilmuwan muda. Ia menilai pendidikan harus terintegrasi dengan kegiatan riset sehingga mampu melahirkan generasi peneliti yang memiliki kemampuan ilmiah sekaligus keterampilan praktis. Dukungan terhadap peneliti muda juga dinilai penting agar mereka dapat mengatasi berbagai tantangan dalam pengembangan riset.
Selain itu, Xi mendorong upaya membangun minat generasi muda terhadap sains sejak dini melalui peningkatan literasi ilmiah, penguatan kemampuan eksperimen, dan pengembangan potensi individu. Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas jumlah talenta yang memilih berkarier di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.
Wakil Dekan Antai College of Economics and Management, Shanghai Jiao Tong University, Liu Shaoxuan, menilai bahwa talenta merupakan faktor kunci yang menghubungkan hasil penelitian dengan implementasi di dunia industri. Menurutnya, keberhasilan hilirisasi inovasi tidak hanya bergantung pada kemampuan ilmiah, tetapi juga membutuhkan tenaga profesional yang memahami aspek industri, pembiayaan, hukum, hingga manajemen.
Liu mencontohkan program Master of Technology Transfer (MTT) di Shanghai Jiao Tong University sebagai salah satu model pendidikan multidisiplin yang mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan praktik industri. Program tersebut dirancang untuk mencetak profesional yang mampu mengawal proses transformasi hasil riset menjadi inovasi yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat.
Ia menilai pendekatan tersebut sejalan dengan arahan Xi Jinping yang mendorong kolaborasi lebih erat antara dunia pendidikan, lembaga penelitian, dan sektor industri guna mempercepat pembangunan ekonomi berbasis inovasi.
Selain pengembangan sumber daya manusia, Xi juga menegaskan pentingnya mempercepat kemandirian teknologi tingkat tinggi sebagai bagian dari target China menjadi negara terdepan di bidang sains dan teknologi pada 2035. Menurutnya, momentum perkembangan teknologi global harus dimanfaatkan untuk memperkuat kemampuan nasional dalam mengembangkan teknologi strategis.
Profesor Departemen Ilmu Komputer dan Teknologi Universitas Tsinghua, Cui Yong, menilai pesan Xi menunjukkan bahwa kemandirian teknologi tidak bertentangan dengan kerja sama internasional. Ia menjelaskan bahwa China tetap perlu memperkuat riset terhadap teknologi inti sekaligus aktif menjalin kolaborasi global di bidang-bidang strategis seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan bioteknologi.
Menurut Cui, keseimbangan antara aspek keamanan nasional dan keterbukaan terhadap kolaborasi internasional akan memperkuat kapasitas inovasi China. Pendekatan tersebut juga memungkinkan negara itu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dunia melalui kerja sama, pertukaran pengetahuan, serta tata kelola teknologi global.
Pidato Xi Jinping mencerminkan arah kebijakan China yang semakin menempatkan inovasi sains dan teknologi sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi serta daya saing nasional. Penguatan ekosistem riset, pengembangan talenta multidisiplin, dan kolaborasi internasional diproyeksikan menjadi strategi utama Beijing dalam mewujudkan visi modernisasi nasional dan target menjadi negara pemimpin di bidang sains dan teknologi pada 2035. (hdl)


as a preferred source on Google




