Jakarta (beritajatim.id) – Pemerintah kembali memperkuat komitmen terhadap perlindungan anak melalui peluncuran Kampanye BERLIAN (Bersama Lindungi Anak) dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN) ke-42 Tahun 2026. Kampanye yang diinisiasi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) tersebut mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan Juli sebagai Bulan Anak Indonesia sekaligus memperluas kolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang aman, ramah, nyaman, sehat, dan inklusif bagi anak.
Gerakan ini menjadi bagian dari implementasi Gerakan Nasional Ruang Aman dan Nyaman untuk Anak (Gernas RANA) yang diinisiasi Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK). Fokus utamanya adalah memperkuat perlindungan anak di berbagai ruang kehidupan, mulai dari lingkungan keluarga, satuan pendidikan, ruang publik, hingga ruang digital yang kini semakin dekat dengan aktivitas anak.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, mengapresiasi langkah Kemen PPPA yang kembali menggelorakan Kampanye BERLIAN sebagai bentuk penguatan sinergi nasional dalam perlindungan anak. Ia menilai tantangan pengasuhan saat ini semakin kompleks seiring perubahan struktur keluarga, meningkatnya urbanisasi, serta pesatnya perkembangan teknologi digital yang memengaruhi kehidupan anak dan keluarga.
Menurut Pratikno, perlindungan anak tidak lagi dapat dibebankan sepenuhnya kepada keluarga. Dibutuhkan keterlibatan aktif berbagai pihak agar seluruh ruang yang diakses anak, baik di rumah, sekolah, lingkungan masyarakat maupun dunia digital, benar-benar menjadi tempat yang aman dan mendukung tumbuh kembang mereka.
Senada dengan itu, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menegaskan bahwa Kampanye BERLIAN merupakan gerakan kolaboratif yang mengajak seluruh komponen bangsa menjadikan pemenuhan hak dan perlindungan anak sebagai tanggung jawab bersama.
Arifah menjelaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam mewujudkan perlindungan anak yang optimal. Karena itu, keterlibatan keluarga, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, organisasi keagamaan, dunia usaha, media massa, Forum Anak, kementerian dan lembaga, hingga berbagai pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam memastikan setiap anak memperoleh hak untuk tumbuh, berkembang, terlindungi, dan berpartisipasi secara bermakna.
Melalui Kampanye BERLIAN, Kemen PPPA juga mendorong penguatan pola pengasuhan positif, peningkatan literasi masyarakat mengenai perlindungan anak, penguatan sistem respons terhadap berbagai bentuk kekerasan, serta perluasan partisipasi anak dalam proses penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan terbaik mereka.
Arifah menekankan bahwa kampanye tersebut diarahkan untuk memperkuat upaya pencegahan berbagai persoalan yang masih dihadapi anak Indonesia, mulai dari kekerasan terhadap anak, perundungan, diskriminasi, hingga praktik perkawinan anak. Pemerintah juga ingin memastikan suara anak didengar dan menjadi bagian dari setiap kebijakan yang menyangkut masa depan mereka sebagai generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Peluncuran Kampanye BERLIAN ditandai dengan permainan tradisional otok-otok sebagai simbol dimulainya gerakan kolaboratif nasional dalam menciptakan ruang yang aman, ramah, nyaman, sehat, dan inklusif bagi anak. Momentum tersebut juga diikuti penandatanganan komitmen bersama serta penulisan harapan pada Wall of Fame sebagai bentuk dukungan berbagai pihak terhadap penguatan perlindungan anak di Indonesia.
Kegiatan peluncuran turut dihadiri Wakil Menteri PPPA Veronica Tan, Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Suharti, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Aris Adi Leksono, perwakilan Bareskrim Polri, Kantor Staf Presiden, organisasi keagamaan, mitra pembangunan, media massa, serta Forum Anak Nasional.
Melalui Kampanye BERLIAN, pemerintah berharap tercipta gerakan bersama yang mampu memperkuat perlindungan anak secara berkelanjutan di seluruh Indonesia. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk menghadirkan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal sekaligus membangun generasi yang sehat, aman, berdaya saing, dan siap menyongsong visi Indonesia Emas 2045. (hdl)


as a preferred source on Google




