Pasuruan (beritajatim.id) – Inovasi berkelanjutan kembali lahir dari dunia kampus. Mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) melalui Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM), bekerja sama dengan Airlangga Student Research Group of Nanotechnology (ARGON), menciptakan pupuk ramah lingkungan berbahan dasar limbah organik bernama Agro Nanoshield.
Pupuk ini terbuat dari limbah sisik ikan mujair yang diolah menjadi nano kitosan, sebuah material yang dikenal memiliki efektivitas tinggi dalam meningkatkan kesuburan tanah tanpa meninggalkan residu kimia. Agro Nanoshield hadir sebagai alternatif nyata dari penggunaan pupuk kimia yang selama ini banyak digunakan petani di Dusun Karangploso, Desa Ngerong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.
Pupuk kimia yang terus digunakan dari musim ke musim telah menyebabkan penurunan kandungan organik tanah serta kerusakan struktur tanah. Hal ini berdampak pada penurunan kesuburan dan produktivitas pertanian. Menjawab permasalahan tersebut, Agro Nanoshield diharapkan mampu menjadi solusi inovatif yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Dalam kegiatan tersebut, tim menjelaskan kontribusi Agro Nanoshield terhadap pencapaian tiga poin utama SDGs, yakni:
- SDG 1: Tanpa Kemiskinan, melalui peningkatan hasil panen dan pendapatan petani;
- SDG 2: Tanpa Kelaparan, dengan menjaga ketersediaan pangan yang sehat;
- SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi Layak, melalui pengurangan pencemaran air irigasi akibat pupuk kimia.
Selain paparan materi, tim juga mendemonstrasikan proses pembuatan pupuk nano kitosan, mulai dari ekstraksi kitosan dari sisik ikan hingga tahap sintesis nanopartikel. Tim membawa sampel pupuk siap pakai dan menyemprotkannya langsung di area sawah milik warga. Respons para petani sangat positif karena pupuk ini dinilai praktis, ramah lingkungan, dan ekonomis.
Agro Nanoshield bukan hanya solusi pertanian, tetapi juga bentuk nyata pengelolaan limbah berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan limbah organik yang sebelumnya tidak bernilai, inovasi ini membuka potensi baru bagi desa untuk mengembangkan sistem pertanian berkelanjutan tanpa harus merusak alam. (adi/ted)


as a preferred source on Google




