Makkah (beritajatim.id) — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan peringatan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak tergiur berangkat ke Tanah Suci tanpa visa haji resmi. Hal ini disampaikan langsung oleh Menag di Makkah, Arab Saudi, menyusul pengetatan luar biasa oleh otoritas Kerajaan Arab Saudi terhadap jemaah nonresmi.
“Saya mengimbau kepada calon jemaah haji nonreguler agar berpikir ulang. Saudi Arabia tahun ini super ketat. Super super ketat,” ujar Menag Nasaruddin, saat meninjau kesiapan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi di Makkah.
Menurut Menag, otoritas Saudi tidak mengizinkan siapa pun masuk ke kawasan Masjidil Haram tanpa visa haji. Bahkan, jemaah yang turun dari kendaraan tanpa visa akan langsung diarahkan untuk kembali.
“Masuk ke Masjidil Haram tanpa visa haji sekarang tidak diizinkan. Saat ini juga bukan musim umrah. Jika tidak memiliki visa haji, langsung dipulangkan,” jelasnya.
Menag bertolak ke Arab Saudi pada 26 April 2025 dalam rangka menghadiri Konferensi Lembaga Hadis binaan Raja Salman di Madinah. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk umrah dan memberi pengarahan kepada tim PPIH.
Ia menggambarkan suasana Masjidil Haram yang saat ini sangat lengang karena seluruh aktivitas umrah telah dihentikan sementara. “Tadi malam Masjidil Haram kosong. Semua orang bisa mencium Kabah karena sudah tidak ada lagi jemaah umrah masuk. Hanya pemegang visa haji yang diizinkan,” imbuhnya.
Menag juga memperingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada pihak-pihak yang menjanjikan bisa berhaji tanpa visa resmi. Risiko terlunta-lunta di Arab Saudi sangat tinggi karena keterbatasan hotel, transportasi, serta ketiadaan kepastian kepulangan.
“Tahun lalu dan tahun ini berbeda. Sekarang benar-benar super ketat. Daripada terlantar, lebih baik hindari hal-hal yang berisiko menimbulkan mudarat,” pesannya.
Kepada jemaah yang telah mendapat kuota haji resmi, Menag berpesan untuk memaksimalkan kesempatan beribadah dengan sepenuh hati. Ia menekankan bahwa peluang berhaji tidak selalu datang dua kali.
“Orang yang tahun ini dipanggil Allah melalui jalur resmi, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah. Sebab, bisa jadi tidak akan dapat kesempatan lagi karena harus menunggu 48 tahun,” pungkas Menag. (adi/ted)


as a preferred source on Google




