Madrid (beritajatim.id) – Pelatih Real Madrid, Alvaro Arbeloa, menegaskan bahwa tidak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan tindakan rasisme di lapangan sepak bola. Pernyataan itu ia sampaikan menyusul insiden dugaan pelecehan rasial terhadap Vinicius Junior dalam laga tengah pekan, sekaligus merespons komentar mantan pelatih Madrid, Jose Mourinho.
Dalam konferensi pers jelang pertandingan La Liga melawan Osasuna, Arbeloa mengawali dengan menyoroti kondisi psikologis Vinicius. Menurutnya, sang penyerang asal Brasil merasa terpukul dan geram atas insiden yang terjadi, sebagaimana dirasakan seluruh tim.
Arbeloa menilai tindakan tersebut tidak memiliki tempat dalam olahraga profesional. Ia menekankan pentingnya momentum ini untuk memastikan kasus serupa tidak terulang dan tidak dibiarkan tanpa konsekuensi.
Keputusan Tetap Bermain Datang dari Vinicius
Insiden terjadi setelah dugaan ucapan bernada rasial yang dilontarkan oleh Gianluca Prestianni kepada Vinicius, yang memicu aktivasi protokol anti-rasisme oleh wasit dan menyebabkan laga sempat tertunda sekitar 10 menit.
Arbeloa menjelaskan bahwa keputusan untuk melanjutkan pertandingan sepenuhnya berada di tangan Vinicius. Ia menegaskan seluruh tim siap meninggalkan lapangan jika sang pemain meminta demikian. Namun, Vinicius memilih untuk tetap bertanding.
Sikap kolektif tim dalam mendukung rekan setimnya menjadi kebanggaan tersendiri bagi Arbeloa. Ia mengapresiasi solidaritas para pemain yang berdiri bersama melawan tindakan diskriminatif, sembari tetap menjaga fokus hingga laga berakhir.
Respons terhadap Komentar Mourinho
Sebelumnya, Mourinho mengalihkan sorotan dari dugaan pelecehan rasial ke selebrasi Vinicius, yang menurutnya memancing reaksi suporter. Komentar tersebut memicu perdebatan luas, mengingat hubungan dekat antara Mourinho dan Arbeloa di masa lalu.
Arbeloa tidak secara langsung mengecam mantan pelatihnya itu, namun ia menyatakan ketidaksetujuannya terhadap narasi yang menyudutkan korban. Ia menilai publik menyaksikan sendiri apa yang terjadi di lapangan dan tidak seharusnya isu utama dialihkan.
Menurut Arbeloa, selebrasi gol merupakan bagian lazim dari sepak bola modern. Banyak pemain dari berbagai latar belakang melakukan ekspresi serupa tanpa konsekuensi. Ia menegaskan bahwa tidak pantas menggambarkan korban sebagai pihak yang memicu insiden.
Desakan Tindakan Tegas UEFA
Kasus ini kini berada dalam penanganan UEFA. Jika terbukti bersalah, Prestianni berpotensi menerima sanksi minimal larangan bermain selama 10 pertandingan. Namun, hingga kini belum ada bukti konkret selain kesaksian Vinicius dan rekan setimnya, termasuk Kylian Mbappe.
Arbeloa berharap badan sepak bola Eropa tersebut menunjukkan konsistensi dalam menegakkan aturan anti-diskriminasi. Ia melihat momen ini sebagai peluang untuk menegaskan bahwa kampanye melawan rasisme bukan sekadar slogan.
Fokus ke Osasuna dan Liga Champions
Di tengah polemik, Real Madrid tetap harus menjaga konsentrasi menghadapi Osasuna di Stadion El Sadar, sebelum melakoni leg kedua babak gugur Liga Champions melawan Benfica pada pertengahan pekan.
Arbeloa memuji kontribusi Vinicius yang dinilai kerap menjadi penentu kemenangan lewat gol-gol krusial. Ia juga menggarisbawahi ketangguhan mental sang pemain yang mampu kembali tampil kompetitif setelah mengalami tekanan berat.
Menurut Arbeloa, setiap pesepak bola mungkin menerima hinaan, namun serangan berbasis warna kulit merupakan bentuk diskriminasi yang jauh lebih serius dan tidak dapat ditoleransi. (aga)


as a preferred source on Google




