Surabaya (beritajatim.id) – Bahasa gaul semakin lekat dengan kehidupan anak muda, terutama generasi Z. Ungkapan seperti “anjay, bucin banget,” atau “cringe parah, gak relate” sudah jadi bahasa sehari-hari di tongkrongan, chat grup, hingga media sosial. Bagi Gen Z, istilah itu terasa wajar. Namun, buat generasi yang tumbuh dengan bahasa baku, kalimat tersebut bisa terasa aneh bahkan membingungkan.
Fenomena ini menggambarkan bagaimana bahasa terus berevolusi mengikuti zaman. Sayangnya, jika digunakan tanpa batas, bahasa gaul dapat menimbulkan kesalahpahaman antar generasi, bahkan mengikis peran bahasa Indonesia dan bahasa ibu dalam kehidupan sehari-hari.
Bahasa Indonesia memang menjadi bahasa persatuan, tetapi bahasa ibu tetap punya nilai yang tak tergantikan. Bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi, melainkan jantung budaya yang menyimpan tradisi, nilai, dan identitas masyarakat.
Seperti yang pernah dicatat Puskomedia Indonesia (2025), hilangnya bahasa ibu berarti hilangnya penghubung antar generasi. Contoh nyata bisa dilihat dari Desa Tayem yang masih menjaga bahasa daerah sebagai simbol kebersamaan. Mereka menunjukkan bahwa bahasa ibu bisa hidup berdampingan dengan perkembangan zaman.
Ada dua faktor utama yang bikin bahasa gaul cepat berkembang: media sosial dan budaya populer. Media sosial jadi mesin penyebaran istilah gaul. Satu tren viral di TikTok atau Instagram saja bisa memperkenalkan kosakata baru yang langsung dipakai jutaan orang. Budaya populer seperti musik, film, dan selebritas juga ikut mendorong. Lirik lagu, gaya bicara artis, hingga meme lucu membuat istilah asing cepat masuk ke percakapan sehari-hari.
Alhasil, muncul kosa kata campuran: dari “kepo”, “alay”, “caper”, hingga istilah Inggris atau bahasa Korea yang diselipkan di obrolan. Campur-campur bahasa ini bikin remaja terlihat modern, tapi kadang membuat bahasa ibu dan bahasa Indonesia semakin terpinggirkan.
Bagi Gen Z, memakai bahasa gaul bukan hanya soal komunikasi, tapi juga identitas. Mengikuti tren bahasa kekinian membuat mereka merasa lebih dekat dengan lingkungannya. Sebaliknya, ketinggalan istilah gaul bisa bikin seseorang dianggap kurang update atau nggak nyambung.
Namun, penggunaan berlebihan juga punya risiko. Campur aduk istilah gaul sering terbawa ke ranah akademis atau formal. Misalnya, kebiasaan menulis gaya santai di chat malah ikut muncul saat menyusun laporan atau skripsi. Hal ini tentu bisa menurunkan kualitas kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
Meski punya dampak negatif, bahasa gaul tak sepenuhnya buruk. Kreativitas dalam merangkai kata menunjukkan dinamika dan keterbukaan generasi muda terhadap budaya global. Tantangannya adalah bagaimana menggunakan bahasa gaul di tempat yang tepat, tanpa melupakan akar bahasa Indonesia dan bahasa ibu.
Peran orang tua, guru, hingga konten kreator digital sangat penting. Di sekolah, guru bisa mengenalkan bahasa daerah lewat lomba atau cerita rakyat. Di rumah, orang tua dapat membiasakan anak bercakap dengan bahasa ibu melalui percakapan, dongeng, atau lagu tradisional. Bahkan, pelestarian bahasa bisa dibuat seru dengan konten digital—podcast, video pendek, hingga meme berbahasa daerah.
Bahasa gaul dan bahasa ibu tidak harus saling menyingkirkan. Justru keduanya bisa berjalan beriringan. Bahasa gaul membuat Gen Z terlihat keren dan relevan, sementara bahasa ibu dan bahasa Indonesia menjaga akar budaya serta identitas bangsa. Menjadi modern tidak berarti melupakan warisan bahasa, karena justru di sanalah kekuatan generasi muda untuk tetap terkoneksi dengan masa lalu sekaligus siap menyongsong masa depan. (aga)


as a preferred source on Google




