Padang (beritajatim.id) – Kota Padang, Sumatera Barat, kembali dilanda banjir setelah hujan deras melanda wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang mencatat sebanyak 27.433 warga terdampak bencana yang terjadi sejak awal pekan.
Laporan Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) menunjukkan Kecamatan Koto Tangah menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar, mencapai 20.983 jiwa. Wilayah lain yang turut merasakan dampak meliputi Kecamatan Nanggalo dengan 2.232 warga, Kecamatan Padang Utara 1.486 warga, serta Lubuk Begalung yang mencatat 893 jiwa terdampak.
Kecamatan Pauh melaporkan 741 warga terdampak, diikuti Kuranji dengan 601 jiwa. Sementara itu, Kecamatan Padang Barat mencatat 321 warga terdampak, Padang Timur 150 jiwa, serta Bungus Teluk Kabung sebanyak 26 jiwa. Totalnya, banjir melanda sembilan kecamatan di Kota Padang.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, menyampaikan bahwa bencana tersebut turut menyebabkan kerusakan pada permukiman dan infrastruktur. Data sementara menunjukkan dua rumah hanyut, 61 rumah mengalami kerusakan sedang, dan 17 unit lainnya rusak ringan. Selain itu, terdapat satu rumah ibadah rusak ringan, dua lokasi mengalami longsor, serta dua petak sawah dilaporkan rusak berat.
BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem hingga 29 November
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Minangkabau turut mengeluarkan peringatan terkait potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih dapat terjadi hingga 29 November 2025.
Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan bahwa kemunculan bibit siklon tropis 95B yang teridentifikasi sejak 21 November 2025 di wilayah Selat Malaka timur perairan Aceh memicu peningkatan potensi hujan lebat. Fenomena ini memperkuat pertemuan massa udara di Sumatera Barat, ditambah kondisi Indeks Ocean Dipole (IOD) negatif yang meningkatkan kadar uap air dan kelembapan di atmosfer.
Kombinasi faktor atmosfer tersebut memicu pertumbuhan awan hujan tebal dan luas, menyebabkan hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir.
Desindra Deddy juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat pada periode 26–29 November, mengingat cuaca ekstrem dapat memicu sejumlah bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, hingga potensi banjir lahar dingin akibat aktivitas Gunung Marapi.
Wilayah yang masuk dalam zona potensi bencana meliputi Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Padang Pariaman, Pasaman, Pesisir Selatan, Kota Padang, serta Kota Padang Panjang dan sekitarnya.
BMKG turut mengimbau masyarakat untuk mengenali titik rawan bencana, memperbarui informasi cuaca sebelum beraktivitas, serta memprioritaskan lokasi aman ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang. Panduan dan instruksi dari petugas kebencanaan juga diminta untuk selalu diikuti demi keselamatan. (ris)


as a preferred source on Google




