Surabaya (beritajatim.id) — Dominikus Raditya Atmaka S.Gz., MPH., dosen muda dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM UNAIR), berhasil meraih beasiswa Fulbright dari American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) untuk melanjutkan studi doktoralnya di Amerika Serikat.
Domi, sapaan akrabnya, akan menjalani program doktoral di Colorado State University (CSU), salah satu kampus unggulan di bidang fermentasi, probiotik, dan mikrobiota usus. Fokus riset yang diambil Domi adalah pada gizi anak, terutama pengembangan produk fermentasi berbasis pangan lokal sebagai bagian dari MPASI (Makanan Pendamping ASI) yang mengandung probiotik.
“CSU menawarkan ekosistem riset yang kuat, terutama di bidang fermentasi dan mikrobiota usus. Ini menjadi tempat yang ideal untuk mengembangkan riset mikrobiota pada anak,” ungkap Domi.
Perjalanan Menuju Fulbright: Dari Gagal ke Berhasil
Keberhasilan Domi tidak terjadi dalam satu malam. Ia mulai mencoba mendaftar beasiswa sejak 2021, namun sempat mengalami beberapa kali kegagalan saat mencoba ke berbagai negara di Asia. Tahun 2024 menjadi titik balik, saat ia memperluas pilihannya dan memutuskan untuk mendaftar program beasiswa Fulbright.
Usaha tersebut membuahkan hasil: ia dinyatakan lulus seleksi Fulbright pada percobaan pertama. Dalam proses pendaftaran, Domi fokus menyusun dokumen seperti personal statement, curriculum vitae (CV), dan study objective yang kuat dan berdampak.
“Hal penting dalam proses seleksi adalah menyusun rencana keberlanjutan studi yang realistis dan berdampak bagi lingkungan sekitar,” jelasnya.
Mengapa Memilih Colorado State University?
Menurut Domi, CSU merupakan kampus dengan laboratorium fermentasi terbesar di Amerika Serikat, dan menjadi bagian dari Colorado Clinical and Translational Sciences Institute, yang berkolaborasi dengan berbagai institusi riset terkemuka dalam bidang biomedis.
Dengan fasilitas dan ekosistem riset yang sangat mendukung, CSU dianggap sangat ideal untuk mengembangkan riset terkait pediatric nutrition dan mikrobiota usus anak—bidang yang kini semakin relevan dengan kebutuhan kesehatan anak-anak di Indonesia.
Domi tidak lupa menegaskan bahwa ilmu yang ia peroleh di Amerika Serikat akan kembali diimplementasikan di tanah air.
Ia berencana mengembangkan produk fermentasi berbasis pangan lokal sebagai solusi gizi untuk anak Indonesia, termasuk pengenalan bakteri baik melalui MPASI sejak dini.
Sebagai penutup, Domi membagikan motivasi kepada para akademisi muda di Indonesia, “Gagal itu biasa, tapi sekalinya berhasil, bahagianya selamanya. Jangan pernah takut untuk mencoba. Tekad dan konsistensi adalah kunci. (ted)


as a preferred source on Google




