Surabaya (beritajatim.id) – Momentum Hari Bidan Nasional menjadi pengingat pentingnya peran bidan tidak hanya dalam mendampingi ibu hamil dan proses persalinan, tetapi juga dalam meningkatkan pemahaman kesehatan reproduksi sejak usia remaja. Edukasi yang tepat sejak dini dinilai menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
Dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Wahyul Anis, S.Keb., Bd., M.Kes., menegaskan bahwa kesehatan reproduksi merupakan aspek yang perlu diperhatikan sejak masa remaja karena berpengaruh terhadap kondisi kesehatan seseorang di masa depan.
Menurut Wahyul, bidan memiliki peran strategis dalam mendampingi perempuan sepanjang siklus kehidupannya, termasuk pada fase remaja. Karena itu, edukasi mengenai kesehatan reproduksi menjadi bagian penting dari tugas profesi bidan untuk membangun kesadaran sejak usia muda.
Ia menjelaskan bahwa perkembangan teknologi dan media digital memberikan kemudahan bagi generasi muda untuk memperoleh berbagai informasi terkait kesehatan reproduksi. Namun, derasnya arus informasi juga menghadirkan tantangan tersendiri karena tidak semua sumber yang beredar memiliki kredibilitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Di sisi lain, berbagai persoalan kesehatan reproduksi remaja masih menjadi perhatian. Wahyul menilai perilaku seksual berisiko yang berpotensi menyebabkan kehamilan tidak direncanakan menjadi salah satu tantangan yang perlu diantisipasi melalui edukasi yang berkelanjutan.
Selain itu, pola hidup yang kurang sehat juga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko gangguan kesehatan reproduksi. Konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan dan rendahnya aktivitas fisik dapat memicu obesitas pada perempuan sejak usia muda. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko hipertensi saat kehamilan di masa mendatang, yang dapat berujung pada berbagai komplikasi bagi ibu maupun janin.
Wahyul menambahkan bahwa edukasi kesehatan reproduksi idealnya diberikan sejak remaja menjelang masa pubertas. Sayangnya, pembahasan mengenai kesehatan reproduksi masih sering dianggap sebagai topik yang sensitif atau tabu di sebagian masyarakat, sehingga penyampaian informasi yang benar kerap menghadapi hambatan.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, ia mendorong penggunaan pendekatan teman sebaya sebagai salah satu strategi edukasi yang efektif. Metode ini dinilai mampu menciptakan suasana komunikasi yang lebih terbuka dan mudah diterima oleh remaja. Selain itu, materi edukasi perlu disampaikan secara bertahap dengan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan usia agar pesan yang diberikan dapat dipahami dengan baik.
Melalui peringatan Hari Bidan Nasional, Wahyul mengajak generasi muda untuk lebih peduli terhadap kesehatan reproduksi dan menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, kesehatan perempuan menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan generasi masa depan yang sehat, produktif, dan berkualitas.
Kesadaran terhadap kesehatan reproduksi sejak remaja tidak hanya berdampak pada kesejahteraan individu, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara keseluruhan. (hdl)


as a preferred source on Google




