Jakarta (beritajatim.id) – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bergerak cepat merespons bencana hidrometeorologi berupa banjir dan longsor yang melanda berbagai wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025.
Melalui IDAI Cabang Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, layanan kesehatan, dukungan psikososial, serta bantuan logistik langsung disalurkan dengan fokus pada perlindungan anak-anak dan kelompok rentan.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Pirim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio(K) menegaskan komitmen pihaknya untuk memastikan bantuan tepat sasaran di tengah kondisi darurat.
“Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas musibah banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat. Kami sangat mengapresiasi para ketua dan seluruh anggota IDAI Cabang serta tim satgas bencana yang sigap berkolaborasi dengan BNPB, dinas kesehatan, TNI/Polri, dan relawan untuk memastikan bantuan kesehatan tepat sasaran,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa beberapa dokter anak turut menjadi korban bencana namun tetap bertugas membantu masyarakat.
“Padahal ada juga para dokter spesialis anak yang rumah dan keluarganya menjadi korban terdampak, namun mereka tetap tanpa lelah membantu masyarakat korban lainnya. Terima kasih anggota IDAI!” tegasnya.
Dr Piprim mengingatkan bahwa kelompok seperti anak-anak, difabel, lansia, dan ibu hamil harus menjadi prioritas utama dalam proses evakuasi serta penanganan dini kesehatan.
Dampak Bencana dan Kondisi Terkini
Berdasarkan kompilasi data IDAI hingga 1 Desember 2025, berikut gambaran dampak bencana:
1. Korban Jiwa
Sumatera Barat: 148 meninggal (4 di antaranya anak-anak), 105 hilang, 8 dirawat.
Sumatera Utara: Puluhan korban meninggal dan ratusan terdampak di berbagai wilayah seperti Sibolga, Tapanuli, Langkat, dan Binjai.
Aceh: Gangguan akses dan layanan kesehatan menjadi perhatian utama, terutama di Pidie Jaya.
2. Wilayah Terdampak Parah
Sumbar: Padang, Solok, Padang Pariaman, Agam (terutama Palembayan dan Lubuk Basung), Pasaman Barat.
Sumut: Sibolga, Tapanuli Tengah, Pandan, Sipirok, Binjai, Langkat, Medan.
Aceh: Pidie Jaya, Aceh Utara–Lhokseumawe, dan sejumlah wilayah dengan akses jalan dan jembatan terputus.
3. Kondisi Lapangan
Transportasi sangat terbatas, banyak wilayah hanya bisa dijangkau dengan sepeda motor atau berjalan kaki.
Listrik padam, jaringan komunikasi terputus.
Kekurangan air bersih, makanan, pakaian layak, dan obat-obatan.
Beberapa fasilitas kesehatan mengalami hambatan operasional, termasuk RSUD Pidie Jaya.
Respons Cepat IDAI di Tiga Provinsi
Tim dokter dari IDAI Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat turun langsung melayani kebutuhan kesehatan anak-anak di titik terdampak.
A. Layanan Kesehatan dan Pengobatan Gratis
Sumatera Utara:
Binjai (KM 41B): 66 anak diperiksa, dominan kasus ISPA (37), diare (18), dan infeksi kulit.
Langkat (KM 55): 125 anak diperiksa dengan mayoritas ISPA (55) dan infeksi kulit (58).
Medan Barat: 54 anak diperiksa, didominasi ISPA.
Sumatera Barat:
Skrining tumbuh kembang di Padang (47 anak), ditemukan 1 kasus keterlambatan bicara.
Layanan pengobatan di Padang dan Pariaman.
Aceh:
Pengiriman Emergency Medical Team (EMT) ke Pidie Jaya.
Penguatan RSUD, layanan mobile clinic, serta pelayanan kesehatan di posko pengungsian, termasuk di Masjid Agung Bireuen.
B. Bantuan Non-Medis dan Dukungan Psikososial
Distribusi air bersih, makanan siap santap, pakaian, selimut, dan perlengkapan kebersihan.
Penyediaan MPASI dan makanan balita bekerja sama dengan AIMI di Sumatera Barat.
Trauma healing untuk anak di berbagai posko, termasuk di Kecamatan Nanggalo, Padang.
Pendampingan psikologi anak untuk pemulihan proses belajar.
Kendala Lapangan dan Kebutuhan Mendesak
IDAI mengidentifikasi sejumlah tantangan yang masih dihadapi di lokasi terdampak:
Kekurangan obat-obatan untuk ISPA, diare, dermatitis, dan antibiotik.
Logistik terbatas, termasuk makanan pokok, air minum, pakaian, dan selimut.
Akses sulit dijangkau, terutama ke wilayah terisolir.
Kekurangan tenaga kesehatan untuk posko-posko pengungsian.
Ancaman penyakit akibat sanitasi buruk dan kondisi hunian pengungsian yang padat.
Ketua Satgas Penanggulangan Bencana IDAI, Dr Kurniawan Taufiq Kadafi, M.Biomed, Sp.A, Subsp E.T.I.A(K) menegaskan bahwa pihaknya sedang memperkuat respons jangka menengah dengan memperluas area bantuan.
Ia menjelaskan, “IDAI terus memperkuat koordinasi dengan mengirim lebih banyak tim relawan, memperkuat pos komando seperti Pos HEOC di Sumbar, serta meningkatkan kolaborasi interprofesional dengan berbagai pihak. Kami juga bersiap untuk fase pemulihan dengan memprioritaskan kesehatan anak, pemantauan penyakit berbasis imunisasi, dan dukungan psikososial berkelanjutan.”
Ajakan Partisipasi Publik
IDAI membuka pintu bagi masyarakat untuk membantu korban bencana, khususnya anak-anak:
Bantuan yang Dibutuhkan:
Obat-obatan anak (ISPA, diare, salep kulit)
Susu formula dan makanan bayi
Pakaian anak, selimut
Air bersih dan hygiene kit
Relawan Tenaga Kesehatan:
Dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang siap bertugas di wilayah terdampak.
IDAI juga mengajak masyarakat mendoakan keselamatan warga di Aceh dan Sumatera serta mendukung proses pemulihan.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai donasi dan relawan, masyarakat dapat menghubungi Posko Bencana IDAI cabang setempat. (ted)


as a preferred source on Google




