Surabaya (beritajatim.id) – Usai libur panjang Idulfitri, pasar keuangan Indonesia dibuka dengan tekanan signifikan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan tajam, disusul dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Fenomena ini menarik perhatian para akademisi, termasuk Pakar Ekonomi Internasional dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Rossanto Dwi Handoyo SE MSi PhD.
Dalam keterangannya, Prof Rossanto menyebutkan bahwa fluktuasi pasar saham adalah hal yang lumrah. Namun, penurunan IHSG lebih dari 9 persen dalam waktu singkat mencerminkan adanya gejolak yang lebih dari sekadar faktor fundamental.
“Jika penurunan sudah melewati 2 persen, itu biasanya dipengaruhi oleh faktor psikologis dari pelaku pasar,” ujarnya.
Tekanan Global Jadi Pemicu Utama
Menurut Prof Rossanto, pelemahan ini lebih disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global yang tidak pasti, bukan karena kondisi keuangan emiten di bursa yang memburuk.
“Perusahaan besar seperti Bank Mandiri atau BRI masih sehat secara fundamental, tetap membagikan dividen. Tapi karena orientasi investor adalah capital gain, mereka buru-buru menjual saham,” jelasnya.
Efek Domino Investor Global
Lebih lanjut, Prof Rossanto menjelaskan adanya efek domino yang timbul dari kepanikan global. Ketika investor di negara besar seperti AS, Jepang, atau Tiongkok mulai melakukan aksi jual, maka investor lokal pun ikut terpengaruh.
“Investor itu menular. Ketika semua jual saham karena takut rugi, harga saham bisa jatuh secara drastis,” tegasnya.
Pentingnya Peran Pemerintah dalam Meredam Kepanikan
Dalam situasi pasar yang fluktuatif, Prof Rossanto menekankan pentingnya peran pemerintah dalam memberikan rasa aman kepada pelaku pasar. Ia menyebut bahwa yang dibutuhkan investor bukan sekadar data ekonomi, melainkan kepastian dan konsistensi kebijakan.
“Pemerintah harus hadir lewat komunikasi yang tenang, kebijakan yang konsisten, dan memastikan publik tahu bahwa kondisi tetap terkendali,” tambahnya.
Imbauan untuk Masyarakat: Tidak Panik, Pilih Aset Aman
Prof Rossanto juga mengimbau masyarakat agar tidak ikut panik menghadapi kondisi pasar saat ini. Menurutnya, situasi ini bersifat sementara dan berpotensi pulih dalam waktu sekitar satu tahun seiring proses penyesuaian yang sedang berlangsung.
“Bagi yang memiliki aset berlebih, bisa dialihkan ke instrumen yang lebih aman seperti emas sebagai safe haven, atau deposito yang bebas risiko,” sarannya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru membeli aset seperti properti atau kendaraan jika tidak mendesak, serta menunda memulai usaha yang prospeknya belum jelas di tengah ketidakpastian global. (ted)


as a preferred source on Google




