Surabaya (Beritajatim.id) – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pada awal Maret 2026 langsung menghantam stabilitas pasar modal Asia. Merespons ketegangan geopolitik yang kian memanas di kawasan Timur Tengah tersebut, bursa saham Asia-Pasifik berguguran ke zona merah pada perdagangan awal pekan, Senin (2/3/2026).
Indeks Nikkei 225 dan Topix Terperosok Tajam
Berdasarkan laporan pergerakan pasar finansial global, indeks utama bursa Jepang menjadi salah satu yang terdampak paling parah. Indeks Nikkei 225 terpantau anjlok hampir 2 persen pada awal pembukaan perdagangan, sementara indeks Topix yang lebih luas terkoreksi tajam hingga 2,1 persen. Kepanikan serupa juga melanda bursa Australia dan Hong Kong.
Penurunan drastis ini dipicu oleh kekhawatiran investor global yang memproyeksikan adanya gangguan serius pada rantai pasokan energi. Ketakutan tersebut beralasan, mengingat lonjakan harga minyak mentah yang menembus US$80 per barel berpotensi mencekik biaya produksi dan mengerek inflasi di negara-negara industri seperti Jepang, yang sangat bergantung pada impor energi.
Saham Sektor Pertahanan Justru Melambung
Di tengah lautan zona merah yang melanda pasar saham, sebuah anomali terjadi pada emiten yang bergerak di sektor pertahanan. Data perdagangan mencatat bahwa saham perusahaan alat berat dan kontraktor pertahanan Jepang, seperti Mitsubishi Heavy Industries, Kawasaki Heavy Industries, dan IHI Corporation, justru mencatatkan penguatan lebih dari 1 persen.
Kondisi ini mencerminkan manuver antisipatif para pelaku pasar. Mereka memindahkan aset dari sektor yang rentan terhadap inflasi energi menuju sektor yang diuntungkan oleh sentimen perang, serta memburu aset lindung nilai (safe haven) seperti emas.
Waspada Tekanan Risk-Off di Pasar Regional
Fenomena anjloknya Nikkei menjadi sinyal peringatan dini (early warning) bagi perekonomian regional. Kepanikan global kerap memicu sentimen risk-off, di mana investor asing cenderung menarik dananya dari pasar berkembang (emerging markets) menuju aset yang lebih aman.
Meski saham emiten komoditas berpeluang naik dalam jangka pendek, tekanan arus modal keluar (capital outflow) tetap berisiko menekan stabilitas nilai tukar mata uang domestik dan indeks saham gabungan. Para analis menyarankan pelaku pasar untuk tetap tenang, memperkuat analisis fundamental, dan menghindari aksi jual panik (panic selling) di tengah tingginya volatilitas pasar.


as a preferred source on Google




