Malang (beritajatim.com) – Sebuah video di TikTok terkait dugaan pelecehan yang sudah dilihat sekitar 3 juta kali ramai menjadi perbincangan. Dugaan pelecehan tersebut menyeret dosen salah satu perguruan tinggi di Malang.
Video tersebut juga telah mendapat komentar hingga ribuan dari netizen. Banyak netizen yang penasaran dengan video yang berisi seorang lelaki paruh baya dengan istrinya tengah cekcok dengan tetangga sebelah rumahnya.
Untuk mengetahui hal itu, beritajatim.com coba telah melakukan wawancara dengan terduga korban dan terduga pelaku. Korban, seorang pengusaha rental mobil membeberkan kronologi lengkap serangkaian peristiwa yang dialaminya.
Konflik yang berawal dari hubungan baik antar tetangga di kawasan Joyogrand, Kota Malang, ini berujung pada teror dan laporan hukum.
Korban menuturkan, hubungannya dengan terduga pelaku pada awalnya sangat baik. Namun, keakraban tersebut diduga disalahartikan oleh terduga pelaku, yang kemudian mulai melontarkan candaan dan pernyataan yang mengarah pada pelecehan.
“Dia menganggap saya terlalu santai. Bercandaan-bercandaan yang menurut saya intim, itu dianggap biasa sama dia,” ungkap Sahara.
Menurut penuturan korban, tindakan tidak menyenangkan yang ia alami terjadi dalam beberapa tahap. Berikut adalah kronologi lengkap berdasarkan kesaksiannya:
Dugaan Pelecehan Verbal dan Visual
Korban mengaku telah mengalami pelecehan sebanyak empat kali. Tindakan tersebut tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga visual. Korban mengklaim pelaku pernah secara sengaja menunjukkan video porno yang diduga diperankan pelaku bersama istrinya.
“Dia menunjukkan video porno bersama istrinya ke saya sambil berkata hal yang tidak pantas diucapkan” jelas korban kepada beritajatim.com, Jumat (12/9/2025) sore.
Pelaku diduga sering melontarkan kalimat-kalimat bernada seksual. Korban mencontohkan, pelaku pernah berkata, “Saya kalau dekat Mbak ***** bawaannya sangat nafsu.”
Pelecehan verbal berlanjut ketika pelaku mengomentari penampilan fisik korban dengan kalimat yang sangat tidak pantas, membandingkan bagian tubuhnya dengan istrinya dan menyatakan ketertarikannya secara eksplisit.
Setelah korban mulai menjaga jarak, konflik semakin memanas. pelaku diduga menyebarkan fitnah melalui media sosial (Facebook, Instagram, dan WhatsApp) untuk merusak reputasi pribadi dan bisnis rental mobil milik korban.
“Dia menggiring opini publik untuk membenci saya dan usaha saya. Garasi saya dituduh sebagai tempat transaksi narkoba, miras, judi online, bahkan mobil-mobil rental saya disebut mobil curian,” tegas korban.
Fitnah tersebut juga menyerang kehidupan pribadinya, termasuk dengan mengaitkan namanya dengan pejabat universitas lain yang sama sekali tidak ia kenal.
Tindakan pelaku diduga meningkat menjadi perusakan fisik dan intimidasi. Korban menyebut mobil usahanya sengaja dirusak dengan cara digores menggunakan paku di seluruh bagian bodi. Aksi ini, menurutnya, terekam oleh kamera CCTV.
Puncak teror terjadi pada suatu malam pukul 02.30 WIB. IM diduga dengan sengaja membunyikan klakson mobil selama lima menit dan menggeber mobil customer yang terparkir hingga menimbulkan keributan. Insiden ini berujung pada ketegangan fisik antara pelaku dan karyawan korban.
“Dia mengambil kunci mobil customer dari kotak penyimpanan kami, itu sudah masuk wilayah privasi usaha,” katanya.
Tak hanya itu, korban juga menuding pelaku melakukan intimidasi dengan melibatkan mahasiswa dan orang-orang yang mengaku sebagai anggota TNI untuk menyerang dan mengancamnya.
Terkait hal ini, beritajatim.com juga telah mendapatkan klarifikasi dari pihak terduga pelaku. Melalui istrinya, terduga pelaku secara tegas membantah semua tuduhan, terutama terkait pelecehan seksual dan menyebutkan sebagai fitnah yang kejam.
“Kalau soal cabul, saya pastikan semiliar persen itu fitnah,” ujar istri Yai Mim.
Sementara, terduga pelaku sendiri memberikan narasi yang berbeda. Ia mengklaim kepindahannya ke lingkungan tersebut adalah untuk melakukan pengamatan terhadap dugaan aktivitas ilegal, seperti jual-beli mobil bodong dan transaksi obat terlarang.
Ia merasa menjadi korban dalam kasus ini, dengan menyatakan bahwa dirinya telah dirugikan secara profesional. “Beberapa masjid sudah memecat saya, memberhentikan saya dari jadwal khutbah hingga tahun 2026,” ungkapnya.
Pelaku juga menuduh pihak korban telah memengaruhi warga sekitar, termasuk pengurus RT, dengan memberikan sejumlah uang agar berpihak padanya. Menurutnya, konflik ini adalah rekayasa yang sengaja dibuat untuk mengusirnya dari lingkungan tersebut.
Kasus ini telah viral di media sosial dan mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama (Kemenag) yang dikabarkan telah menurunkan tim Inspektorat Jenderal (Irjen) untuk menangani kasus ini.
Sementara itu, proses pidana sedang berjalan untuk menentukan langkah hukum selanjutnya terhadap ASN tersebut.
Terus Memanas dan Viral
Perseteruan antara warga Perumahan Joyogrand, Kota Malang, dengan eks dosen UIN Malang, Imam Muslimin (MIM), memasuki babak baru yang semakin memanas.
Bukannya mereda setelah surat pengusiran resmi dikeluarkan, konflik justru bereskalasi dengan aksi perusakan pagar yang dilakukan oleh Imam pada malam hari, memicu pertengkaran hebat dengan tetangganya.
Kondisi yang tak kunjung damai ini mengungkap adanya dua narasi yang saling bertentangan antara pihak Imam Muslimin dan warga sekitar.
Di satu sisi, warga merasa resah dan terganggu, sementara di sisi lain, Imam dan istrinya merasa menjadi korban intimidasi dan pengusiran sepihak.
Sahara, tetangga yang berseteru langsung dengan Imam, mengungkapkan bahwa insiden terbaru terjadi setelah surat pengusiran diterima oleh Imam. Menurutnya, klaim Imam bahwa ia telah meninggalkan rumah dan tinggal di hotel adalah sebuah drama.
“Dia (Imam) tidak ke mana-mana. Yang dia framing tinggal di hotel itu tidak benar. Saya punya video dia di rumah sedang menyapu,” ungkap Sahara kepada beritajatim.com, Sabtu (27/9/2025).
Sahara kemudian menceritakan kronologi aksi perusakan yang memicu pertengkaran hebat dengan suaminya, Sofyan.
“Kejadiannya sekitar jam 9 malam. Tiba-tiba terdengar suara ‘krak-krak’. Saat saya lihat keluar, ternyata dia sedang merobohkan pagar bambu pembatas tanah. Suami saya langsung mengamuk,” tutur Sahara.
Menurutnya, aksi tersebut dilakukan tanpa alasan yang jelas dan merusak fasilitas milik orang lain. “Dia marah dengan alasan pagar itu dibangun di atas tanahnya. Padahal Pak RT dan RW sudah menjelaskan bahwa itu bukan tanah dia, tapi dia tetap ngotot,” tambahnya.
Versi Berbeda dari Pihak Yai Mim
Di sisi lain, Imam Muslimin dan istrinya, Rosida Vignesvari, memberikan narasi yang berbeda. Menurut Rosida, aksi merobohkan pagar itu dipicu oleh provokasi dari suami Sahara, Sofyan, sesaat setelah mereka menerima surat pengusiran.
“Setelah menerima surat, kami pulang ke rumah dan disambut oleh Pak Sofyan yang berkata, ‘Loh, sudah diusir kok masih di sini? Kok nggak pergi-pergi?'” jelas Rosida.
Ia menambahkan, suaminya sudah sejak pagi meminta agar pagar bambu itu dipindahkan karena mereka yakin pagar tersebut dibangun di atas tanah yang telah mereka sedekahkan untuk jalan umum. Namun, permintaan itu tidak digubris.
Imam Muslimin juga mengaku menjadi korban intimidasi dan kekerasan. Ia mengklaim dipukul oleh Ketua RT, Prajogo Subiarto, saat pertemuan di musala ketika surat pengusiran diserahkan.
“Waktu di musala, saya minta tanda tangan pindah alamat tidak diberi. Saya bawa kacamata, lalu dipukul kena kacamata saya. Pak RT memang minta maaf setelahnya, tapi artinya kami dihakimi di sana,” klaim Yai Mim saat diwawancara beritajatim.com.
Kini, Imam dan istrinya mengaku tinggal berpindah-pindah di penginapan sambil menunggu rumah mereka yang ia sebut sebagai rumah cita-cita laku terjual.
Untuk memahami kompleksitas masalah ini, berikut adalah urutan peristiwa berdasarkan keterangan dari berbagai pihak:
Juli – Awal September 2025: Awal mula keresahan muncul di lingkungan RT 09/RW 09 Joyogrand. Menurut Ketua RT, Prajogo Subiarto, pemicunya adalah perseteruan masalah tanah, aktivitas membakar lahan, hingga ucapan yang dianggap tidak pantas dari Imam kepada warga perempuan.
7 September 2025: Puncak dari keresahan warga. Rapat warga digelar dan menghasilkan kesepakatan untuk mengeluarkan surat keputusan pengusiran terhadap Imam Muslimin dan istrinya dari lingkungan tersebut.
22 September 2025 (Malam): Surat pengusiran resmi diserahkan kepada Imam Muslimin dalam sebuah pertemuan di musala. Versi Mim dalam pertemuan ini, ia mengaku mendapat intimidasi dari sejumlah warga dan mengalami pemukulan oleh Ketua RT. Versi Warga, pertemuan ini adalah penyerahan surat keputusan resmi hasil kesepakatan warga.
22 September 2025 (Setelah dari Musala): Imam dan istri pulang ke rumah. Versi Imam: Mereka disambut dengan kalimat provokatif oleh tetangganya, Sofyan. Sekitar Pukul 21.00 WIB (malam), terjadi insiden perusakan pagar bambu. Imam merobohkan pagar yang ia klaim berada di atas tanahnya, yang memicu pertengkaran hebat dengan Sofyan.
Warga Minta Yai Mim Tidak Buat Kegaduhan
23 – 24 September 2025: Istri Imam, Rosida, mengaku telah berpamitan kepada sejumlah warga, termasuk Sahara dan perangkat RT/RW. 25 September 2025 – Sekarang: Imam mengklaim tinggal berpindah-pindah di hotel sambil proses penjualan rumah berjalan. Namun, tetangga (Sahara) mengklaim Imam masih berada di rumahnya dan memiliki bukti video.
Ketua RT 09, Prajogo Subiarto, membenarkan adanya surat pengusiran tersebut dan meminta agar Imam tidak lagi memproduksi kegaduhan di lingkungan mereka.
“Saya minta, Bapak jangan terlalu banyak lagi memproduksi kegaduhan di sini. Termasuk memfitnah saya,” tegas Prajogo.
Hingga kini, konflik tersebut belum menemukan titik terang. Warga bersikukuh pada keputusan mereka untuk menjaga ketenangan lingkungan, sementara Mim merasa menjadi korban dan memutuskan untuk menjual rumahnya lalu pindah dari lokasi tersebut.
KDM dan Armuji Turun Gunung
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Wawali Surabaya Armuji mengunjungi Muhammad Imam Muslimin alias Yai Mim di rumahnya di Perumahan Joyogrand Kavling Depag, RT 09/RW 09, Kota Malang, Senin (6/10/2025).
Kang Dedi alias KDM datang sekira pukul 16.00 WIB. Dia datang langsung menuju rumah Yai Mim. Di sana dia berbincang dengan Yai Mim dan istrinya. Bahkan Yai Mim bersama KDM sempat bermain wayang di dalam rumah.
Usai beramah tamah di rumah Yai Mim. KDM bersama Armuji kemudian menuju musalah Al-Ikhlas di perumahan setempat. Disana KDM dan Armuji bertemu dengan Nurul Sahara beserta suaminya M Shofwan. Selain itu juga RT, RW dan warga setempat.
“Pak Yai kemarin datang ke rumah dinas saya di Bandung. Terus Mbak Sahara datang ke rumah pribadi saya di Subang. Jadi dua-duanya ke saya. Terus saya pulang kerja mampir kesini dan sekarang saya pulang lagi,” ujar KDM.
KDM tidak menjelaskan secara rinci maksut kedatangannya. Dia hanya menyebut bahwa kedatanganya untuk bersilaturahmi. Dia datang untuk memenuhi permintaan Yai Mim dan Sahara berkunjung ke rumah masing-masing.
“Kunjungan balasan aja. Mereka dua keluarga datang ke rumah saya. Ya saya nemuin mereka. Dua-duanya minta datang dan saya sudah menemui,” ujar KDM.
Awalnya kehadiran KDM dan Armuji dikabarkan akan membantu proses jalannya mediasi antara kedua belah pihak yang berkonflik. Namun, KDM dan Armuji hanya berbincang santai menyambung silaturahmi. “Tidak ada penekanan. Tidak ada mediasi udah pada akur,” ujar KDM.[dan/ted/beq]


as a preferred source on Google




