Banjarmasin (eritajatim.id) – Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta kembali menggelar Lawatan Nusaraya di Banjarmasin, yang menjadi kota keempat dalam rangkaian acara ini.
Kegiatan ini merupakan pameran terbuka yang melibatkan masyarakat antar kota, dengan konsep mempererat persahabatan budaya.
Lawatan Nusaraya berangkat dari keprihatinan terhadap isu budaya yang terpinggirkan akibat modernisasi. Melalui program ini, Yogyakarta ingin menjadi jembatan yang menghubungkan keragaman budaya berbasis kedaerahan, dan mengangkat kembali budaya-budaya yang hampir terlupakan.
Relasi sejarah antara Banjar dan Jawa menjadi fokus utama dalam lawatan ini. Sejarah Banjar Jawa dalam memori kolektif masyarakat Banjar menjadi bukti bahwa maritim tidak memisahkan, melainkan mempersatukan.
“Relasi sosial antara Banjar dan Jawa memperkuat narasi Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Yetti Martanti, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, dalam pembukaan pameran. Lawatan Nusaraya #4 membawa narasi tentang eratnya hubungan dua wilayah ini yang terpisah laut, namun bersatu dalam budaya.
Selain memperkenalkan warisan budaya, Lawatan Nusaraya juga menjadi ajang promosi untuk Yogyakarta, yang akan menjadi tuan rumah Jaringan Kota Pusaka Indonesia pada tahun 2025.
Saat ini, 60 persen dari wilayah Yogyakarta termasuk Kawasan Cagar Budaya (KCB), yang dikembangkan dengan kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan masyarakat.
Acara ini diresmikan oleh Yetti Martanti bersama pejabat kebudayaan dari berbagai kota, seperti Wing Wiyarso Poespojoedho (Kota Semarang), Kms. Abdullah Fadli (Kota Palembang), dan Zulfaisal Putera (Kota Banjarmasin).
Lawatan Nusaraya sebelumnya telah dilaksanakan di Kota Palembang, Denpasar, dan Semarang. Pameran tahun ini digelar di Wetland Square Banjarmasin pada 18-21 September 2024. (tin/ted)


as a preferred source on Google




