Surabaya (beritajatim.id) – Mahasiswa Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Adhitiya Dwijaya Ariyanto, berhasil menciptakan alat inovatif untuk mendeteksi kualitas minyak goreng. Alat ini mengandalkan metode fuzzy logic untuk menganalisis warna, kejernihan, dan bau minyak guna menentukan kelayakannya untuk digunakan kembali.
Penelitian ini menjadi bagian dari tugas akhir Adhitiya dan menarik perhatian dalam daftar calon wisudawan Untag Surabaya. Ia mengaku terinspirasi setelah menjalani magang di sebuah perusahaan minyak goreng saat masih berkuliah di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS).
“Saya melihat minyak goreng tanpa pewarna memiliki warna kuning cerah, tetapi di rumah banyak ibu-ibu menggunakan minyak berkali-kali hingga berubah warna menjadi coklat pekat. Dari situ, saya mulai bertanya-tanya apakah perubahan ini berpengaruh pada kualitas minyak,” ujarnya, Sabtu (15/2/2025).
Penggunaan Sensor dan Metode Fuzzy Logic
Dengan bimbingan dosen Lutfi Agung Swarga, S.T., M.T., dan Ir. HM Balok Hariadi, M.Sc., Adhitiya mengacu pada standar kualitas minyak goreng yang diatur dalam Standar Nasional Indonesia (SNI). Ia memilih tiga parameter utama yang dapat diuji dengan alat sederhana, yaitu warna, kejernihan, dan bau.
“Ketiga parameter ini dapat dideteksi menggunakan sensor. Data dari sensor kemudian dianalisis dengan metode fuzzy logic untuk menentukan apakah minyak goreng masih layak pakai atau tidak,” jelasnya.
Fuzzy logic dipilih karena mampu mengolah berbagai variabel input untuk menghasilkan keputusan yang lebih akurat. Alat ini menggunakan tiga sensor utama:
- Sensor warna untuk mendeteksi perubahan warna minyak,
- Sensor kejernihan untuk mengukur tingkat transparansi,
- Sensor gas untuk menganalisis bau minyak.
Proses pengembangan alat ini memakan waktu enam bulan, mencakup pembuatan perangkat keras, pemrograman mikrokontroler, serta pengembangan antarmuka grafis (GUI) menggunakan MATLAB.
Pengujian pada Berbagai Sampel Minyak Goreng
Adhitiya melakukan serangkaian pengujian terhadap minyak goreng baru hingga yang telah digunakan beberapa kali. Ia juga menggoreng berbagai jenis makanan, seperti telur, tahu, tempe, ayam, terong, dan ikan, untuk melihat pengaruhnya terhadap kualitas minyak.
“Hasilnya menunjukkan bahwa minyak yang digunakan untuk menggoreng ayam atau ikan lebih cepat keruh dibandingkan bahan lainnya karena kandungan lemak dan residu makanan tersebut,” ungkapnya.
Tantangan dan Harapan Pengembangan Alat
Meski menghadapi tantangan dalam pengumpulan sampel dan penyempurnaan alat, Adhitiya berhasil menyelesaikan studinya dalam 2,5 tahun dengan IPK 3,49. Sebagai mahasiswa kelas sore, ia harus membagi waktu antara kuliah, penelitian, dan pekerjaan.
Menurutnya, alat ini awalnya dirancang agar portable untuk mendukung pengawasan BPOM, terutama dalam memeriksa minyak goreng yang digunakan oleh pedagang kaki lima. Namun, karena keterbatasan, saat ini alat tersebut masih lebih cocok digunakan untuk skala rumah tangga.
Adhitiya berharap alat ini dapat dikembangkan lebih lanjut agar lebih praktis dan bermanfaat bagi masyarakat luas.
“Semoga alat ini bisa meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menggunakan minyak goreng yang sehat. Idealnya, minyak goreng hanya digunakan sekali saja untuk menjaga kualitas makanan dan kesehatan,” tutupnya. (hdl)


as a preferred source on Google




