Surabaya (beritajatim.id) – Eskalasi konflik bersenjata antara Iran dan Israel memicu gelombang kepanikan di pasar finansial global. Ketegangan geopolitik yang kembali meletus di Timur Tengah pada awal Maret 2026 ini berdampak langsung pada terganggunya rantai pasok energi. Akibatnya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam menembus level US$80 per barel dan diproyeksikan terus melaju menuju US$100 per barel.
Lonjakan Harga Minyak Menuju US$100 per Barel
Kenaikan harga emas hitam ini didorong oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi macetnya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah, yang merupakan salah satu lumbung energi utama dunia. Respons pasar yang negatif terhadap perang Iran dan Israel membuat harga acuan minyak mentah, baik Brent maupun West Texas Intermediate (WTI), mengalami tren bullish yang agresif.
Para analis pasar komoditas menilai, jika intensitas serangan militer terus berlanjut dan melibatkan infrastruktur vital, bukan tidak mungkin harga minyak akan menyentuh angka US$100 per barel dalam waktu dekat. Situasi ini menciptakan ketidakpastian tinggi bagi negara-negara yang sangat bergantung pada impor energi.
Waspada Efek Domino Inflasi Global
Meroketnya harga minyak mentah membawa efek domino yang serius, yakni ancaman lonjakan inflasi. Kenaikan biaya energi secara otomatis akan mengerek biaya logistik dan ongkos produksi di berbagai sektor industri. Beban tambahan ini pada akhirnya akan diteruskan kepada konsumen akhir melalui kenaikan harga barang dan jasa.
Bagi perekonomian domestik, gejolak harga minyak mentah ini perlu diwaspadai secara saksama. Kenaikan harga minyak dunia yang jauh melampaui asumsi makro berisiko menekan stabilitas fiskal, terutama terkait alokasi subsidi energi. Jika gejolak ini berkepanjangan, risiko imported inflation (inflasi yang berasal dari luar negeri) akan semakin nyata dan berpotensi menggerus daya beli masyarakat.
Pemerintah dan otoritas moneter dituntut untuk segera merumuskan langkah mitigasi yang komprehensif. Kebijakan strategis dalam menjaga ketahanan energi nasional dan stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi kunci utama agar imbas perang di Timur Tengah tidak melumpuhkan momentum pertumbuhan ekonomi di dalam negeri.


as a preferred source on Google




