Jakarta (beritajatim.id) – Upaya Indonesia memperkuat diplomasi global melalui pendekatan budaya dan kebijakan kembali ditunjukkan lewat peluncuran buku “Rasa Bhayangkara Nusantara” di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Paris. Buku tersebut menjadi medium strategis untuk memperkenalkan program prioritas nasional, khususnya pemenuhan gizi masyarakat, kepada publik internasional.
Buku berjudul Taste of Nusantara: 80 Bhayangkara Menu for Indonesia’s Free Nutritious Meals Program ini diserahkan langsung oleh Dirgayuza Setiawan kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Prancis, Mohamad Oemar, dalam agenda resmi di Paris pada Selasa (14/4/2026).
Inisiatif ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Buku tersebut tidak hanya menyajikan kekayaan kuliner Nusantara, tetapi juga memuat konsep kebijakan berbasis gizi yang menjadi perhatian global.
Dedi Prasetyo memberikan apresiasi terhadap kolaborasi penulisan buku tersebut bersama Dirgayuza Setiawan. Ia menilai karya ini menjadi bentuk konkret sinergi antara ide dan implementasi dalam memperkenalkan kebijakan nasional ke dunia internasional.
Menurut Dedi, pendekatan gastrodiplomasi mampu menjembatani komunikasi kebijakan dengan cara yang lebih universal dan mudah diterima lintas budaya. Ia juga menyinggung kunjungan delegasi Prancis ke fasilitas pemenuhan gizi Polri di Jakarta pada akhir 2025, yang menunjukkan adanya pengakuan internasional terhadap standar program tersebut.
Prancis sendiri dinilai memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan program makan bergizi melalui sistem La Cantine Scolaire. Model ini menjadi referensi penting bagi Indonesia dalam mengembangkan program MBG, terutama dalam aspek kualitas pangan dan edukasi kebiasaan makan sehat.
Dirgayuza Setiawan menambahkan bahwa sistem kantin sekolah di Prancis tidak hanya berfungsi sebagai penyedia makanan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan gizi dan budaya makan. Ia menilai pendekatan terdesentralisasi dengan standar nasional menjadi kunci keberhasilan yang dapat diadaptasi di Indonesia.
Buku ini juga menjadi bagian dari strategi diplomasi yang lebih luas, setelah sebelumnya diperkenalkan di berbagai kota dunia seperti London, Davos, Washington D.C., Jeddah, Tokyo, hingga Seoul. Kehadiran di Paris memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan global, khususnya dalam isu ketahanan pangan dan gizi.
Selain itu, buku tersebut turut menjadi instrumen penting dalam forum internasional seperti School Meals Coalition, yang mendorong kolaborasi antarnegara dalam menyediakan program makan bergizi bagi generasi muda.
Langkah ini menegaskan komitmen Indonesia dalam menjadikan pemenuhan gizi sebagai prioritas pembangunan manusia. Melalui pendekatan budaya dan kuliner, Indonesia tidak hanya mempromosikan kekayaan gastronomi, tetapi juga menghadirkan solusi kebijakan yang relevan dan aplikatif di tingkat global.
Kehadiran “Rasa Bhayangkara Nusantara” di Paris menjadi simbol bahwa diplomasi Indonesia kini tidak hanya berbasis politik dan ekonomi, tetapi juga menyentuh aspek budaya dan kesejahteraan masyarakat dunia. (ris)


as a preferred source on Google




